Scroll to Top

Kerap Stres Waktu Kecil Bisa Picu Kanker Saat Dewasa

By Ilham Choirul / Published on Friday, 08 Jun 2012

Memperhatikan kesehatan mental buah hati sebaiknya dimulai sejak kecil. Pada masa ini, anak harus diusahakan seminimal mungkin mengalami stres berlebihan. Studi yang dilakukan  Ohio State University Wexner Medical Center menunjukkan, ketika orang dewasa sering mengalami tekanan mental sejak kecil, memiliki peluang untuk mengalami kanker kulit yang disebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh.

Peneliti melakukan studi pada sel basal karsinoma. Ini adalah sel kanker kulit yang sangat jinak dan umum ada pada manusia. Sel basal ini akan selalu dalam keadaan tertidur jika sistem kekebalan tubuh dalam keadaan kuat. Namun, peneliti mengatakan, sel basal tersebut bereaksi positif saat seseorang kerap mengalami stres di awal usianya. Sistem kekebalan ikut menurun berbanding lurus dengan trauma masa lalu yang penuh tekanan mental. Sel itu bisa menjelma menjadi kanker kulit kalau kekebalan tubuh sering drop.

Penelitian ini menunjukkan ada kaitan masa lalu dengan kemungkinan tumbuhnya sel kanker menjadi lebih aktif yang disebabkan oleh penurunan kekebalan tubuh. Ada beberapa tipe kanker lainnya yang semakin ganas dengan menurunnya imunitas, yang disebut dengan kanker imunogenik. Yaitu, kanker kepala dan leher, kanker melanoma (kulit), dan kanker ovarium. Saat seseorang tidak mempu mempertahankan kekebalan tubuhnya, sel basal dari tipe kanker imunogenik bisa terpicu untuk aktif.

Oleh karena itu, seseorang yang memiliki trauma masa kecil kurang baik sebaiknya segera melupakan kenangan buruk itu dan tidak terlalu membebani hati dengan memikirkannya kembali. Stres berkepanjangan itu sangat tidak menguntungkan kesehatan. Juga, orang tua yang saat ini memiliki anak sebaiknya tidak terlalu membebani mental mereka dengan stres yang berat agar tidak menjadi trauma yang panjang.

 “Jika sistem kekebalan tubuh tersetting menurun, itu akan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menangani tumor itu,” kata Ron Glaser, direktur Institute for Behavioral Medicine Research (IBMR).

Penelitian ini diterbitkan dalam Archives of General Psychiatry.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda