Scroll to Top

Khasiat Jamu Indonesia Mulai Diakui

By Ilham Choirul / Published on Tuesday, 26 Jul 2011

jamuAkhirnya, jamu tidak lagi dipandang sebagai obat “kelas dua” di Indonesia. Pemerintah mulai mengapresiasi khasiat jamu yang sebelumnya hanya diketahui dari mulut ke mulut.  Apalagi, dengan minat masyarakat yang kini peduli terhadap pengobatan tradisioanal, menuntut pemerintah untuk segera melakukan standardisasi obat alam ini.

Hal tersebut dilakukan dengan saintifikasi atau pembuktian jamu secara ilmiah. Pengilmiahan khasiat jamu ini yang nantinya memudahkan para dokter untuk meresepkan jamu pada pasiennya. Selama ini resep jamu belum bisa diresepkan karena belum ada standar jelas untuk pengobatan.

Pada proses saintifikasi jamu, dilakukan pencatatan medis yang lengkap dan cermat. Pembuktian ini untuk menemukan seberapa jauh obat tradisional alami memberikan manfaat klinis untuk pencegahan dan pengobatan penyakit, beserta efek samping yang mungkin timbul.

“Kita ingin agar jamu itu menjadi tuan rumah di negara sendiri, dan nantinya masuk di dalam pelayanan kesehatan Indonesia yang formal,” kata Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, seperti dikutip VOA News.

Program saintifikasi ini telah dimulai sejak tahun lalu sampai sekarang. Langkah awalnya, dokter puskesmas di beberapa tempat di Jawa Tengah diberi izin memberikan resep obat dengan jamu.

“Orang-orang sudah pakai jamu ini dari dulu. Kita melakukan pencatatan yang lebih terstruktur kepada mereka (pengguna jamu), dan kita ikuti selama satu atau dua tahun, ” tutur Sri Indrawaty, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan dari Kementerian Kesehatan.

Berdasar Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, menunjukkan, 60 persen penduduk Indonesia pernah minum jamu. Sebagian besar mereka, atau 90 persen, mengakui bahwa jamu itu bermanfaat.

Karena jumlah jamu sangat banyak, maka saintifikasi jamu ini untuk tahap awal dilakukan pada empat jenis ramuan. Yaitu, ramuan untuk hipertensi,  asam urat, kelebihan gula darah,  dan kelebihan kolesterol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda