Scroll to Top

Hati-Hati, Kosmetik Bisa Jadi Penyebab Diabetes

By Ilham Choirul / Published on Monday, 16 Jul 2012

cat kuku

Kalau komposisi kosmetik Anda mengandung ftalat atau phthalates, sebaiknya segera singkirkan. Sebuah studi dari Division of Women’s Health di Brigham and Women’s Hospital menemukan, zat kimia ini berpotensi menimbulkan penyakit diabetes saat jumlahnya terakululasi dalam tubuh. Kontak kosmetik dengan kulit akan membuat zat ini mengendap dan dalam jangka panjang mengganggu sistem endokrin.

Ftalat biasa ditemui dalam produk pelembab, cat kuku, sabun, semprotan rambut (hair spray) dan parfum. Biasanya bahan tersebut tercetak dalam label yang ada di kemasan kosmetik. Selain pada kosmetik, ftalat juga biasa dipakai dalam memroduksi lem, alat elektronik, mainan, dan sebagainya.

Pada studi ini dilibatkan 2.340 wanita. Mereka terbiasa memakai kosmetik dalam kesehariannya. Sebagian dari mereka memiliki kandung ftalat cukup tinggi dalam tubuh. Jenis ftalat yang ditemukan adalah mono-benzil phthalate, mono-isobutil phthalate, mono-n-butil ftalat, di-2-etilheksil phthalate, atau mono-(3-carboxypropyl) phthalate. Kandungan ini ditemukan setelah relawan melakukan uji air seni.

Dari pengamatan itu didapat hasil, wanita yang memiliki kadar tinggi dari mono-benzil phthalate dan mono-isobutil phthalate, punya risiko terkena penyakit diabetes sebesar dua kali lipat. Sementara itu, wanita dengan kadar mono-(3-carboxypropyl) phthalate tinggi, risiko terkena diabetes meningkat 60 persen dari mereka yang berkadar rendah.

Lebih bahaya lagi ketika konsentrasi mono-n-butil ftalat dan di-2-etilheksil phthalate cukup tinggi dalam tubuh. Pasalnya, dua zat tersebut meningkatkan risiko diabetes sampai 70 persen.

“Selain ada dalam produk perawatan pribadi, ftalat juga ada di beberapa jenis peralatan medis dan obat-obatan yang digunakan untuk mengobati diabetes. Dan, ini juga bisa menjelaskan tingkat yang lebih tinggi ftalat dengan diabetes pada wanita. Jadi secara keseluruhan, penelitian lebih lanjut diperlukan,” kata Tamarra James-Todd, PhD, sang peneliti.

Temuan ini diterbitkan dalam 13 Juli 2012 edisi online Environmental Health Perspectives.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda