Scroll to Top

Hati-Hati, Cinta Bisa Berubah Jadi Nafsu Seksual

By Ilham Choirul / Published on Monday, 16 Jul 2012

cinta

Tahukah Anda? Antara cinta dan nafsu seksual ternyata diproses dari satu bagian otak yang sama. Kedua bentuk mood itu punya efek saling memengaruhi. Cinta bisa menimbulkan nafsu, dan nafsu bisa memunculkan cinta. Namun, bisa pula, keduanya berdiri sendiri. Kausalitas antara cinta dan nafsu ini ditemukan melalui studi yang dilakukan oleh peneliti di Concordia University di Montreal.

Dikutip dari Huffington Post, sebelumnya antara cinta dan nafsu seksual dianggap dua rasa yang berbeda. Keduanya dianggap sebagai perasaan yang tidak saling berhubungan. Namun, lewat studi ini, anggapan tersebut terbantah.

Para peneliti yang dimotori psikolog Jim Pfaus dan timnya, mencoba menguak kembali sekitar 20 penelitian sebelumnya yang melibatkan pemindaian otak melalui alat fMRI. Sampel yang diamati adalah responden pria dan wanita. Dari berbagai studi itu ditemukan, cinta dan nafsu seks digerakkan oleh bagian otak yang bernama kontinum neurologis.

Baik cinta maupun nafsu, keduanya akan mengaktifkan bagian striatum, yaitu bagian otak yang menerima pesan emosi dari korteks. Nafsu seks akan mengaktif striatum ventral yang berhubungan dengan emosi dan motivasi.  Sementara untuk rasa cinta, yang aktif adalah striatum dorsal yang berhubungan dengan pengambilan keputusan dan efek candu.

Karena terjadi pada satu bagian inilah, peneliti lantas berkesimpulan seringkali muncul tumpang-tindih antara cinta dan nafsu. Kadang cinta bisa bertransisi menjadi perasaan ingin bercinta. Atau, orang yang bercinta tiba-tiba merasakan emosi cinta terhadap lawan jenis yang sudah bergumul dengannya.  Walaupun, kadang bisa pula perasaan itu tidak saling berhubungan pada awal perjumpaan.

Barangkali, inilah alasan pentingnya melakukan seks rutin bagi pasangan yang telah menikah. Seks bisa menjadi jalan untuk menumbuhkan kembali perasaan cinta yang mungkin mulai luntur seiring dengan bertambahnya usia pernikahan. Dan, bagi pasangan yang belum menikah, studi ini bisa dijadikan rambu agar hubungan pranikah tidak sampai kebablasan.

Tagged as:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda