Scroll to Top

PSSI & KPSI Diminta Jadikan Momen Lebaran Untuk Berdamai

By Aditya / Published on Thursday, 16 Aug 2012

La Nyalla - Djohar Arifin

Momen Lebaran yang kental dengan tradisi saling memaafkan hendaknya dijadikan oleh PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin dan KPSI di bawah komando La Nyalla Mattalitti sebagai momen untuk berdamai demi menuntaskan konflik yang terjadi selama ini.

Harapan tersebut diungkapkan oleh mantan anggota Komite Normalisasi (KN), FX Hadi Rudyatmo. Wakil Walikota Solo, Jawa Tengah, ini menghimbau agar kedua belah pihak mengutamakan kepentingan nasional dan tidak melulu mementingkan arogansi kelompok.

“Kalau kedua pihak tidak memikirkan kepentingan nasional, akhirnya ya seperti ini. Lebaran nanti bisa dijadikan momen bagi mereka untuk mengakhiri konflik,” harap FX Hadi Rudyatmo di Solo, Rabu (15/8/2012).

FX Hadi Rudyatmo pun mencoba memberi solusi agar konlik antara kedua kelompok tersebut bisa diakhiri. Menurut pendamping Joko Widodo (Jokowi) ini, PSSI dan KPSI (yang juga membawahi Badan Liga Indonesia atau BLI) harusnya saling berbagi tugas untuk mengelola urusan sepakbola di Indonesia.

“Sederhana penyelesaiannya, bahwa PSSI tetap menjadi induk organisasi sepakbola di Indonesia yang resmi, sementara pihak yang menjalankan kompetisi diserahkan kepada BLI,” ujar FX Hadi Rudyatmo.

Dengan demikian, FX Hadi Rudyatmo yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persis Solo ini menyarankan agar pengelolaan kompetisi diserahkan sepenuhnya kepada BLI. Selama ini, pihak PSSI telah mempercayakan pengelolaan kompetisi Indonesia Premier League (IPL) kepada PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS).

Menurut FX Hadi Rudyatmo, PT Liga Indonesia yang bernaung di bawah BLI adalah pihak yang paling berhak menggelar kompetisi ketimbang LPIS. Lagipula, pengelolaan kompetisi oleh PT Liga Indonesia dinilai lebih baik ketimbang LPIS yang masih menyisakan banyak masalah hingga saat ini.

“Ketika KLB di Solo lalu mengeluarkan keputusan LPI (Liga Prima Indonesia) dibubarkan, berarti kompetisi itu sudah tidak diakui FIFA. Praktis pengelolanya (LPIS) juga tidak berhak menggelar kompetisi,” tandasnya.

Ingin menilai secara obyektif, FX Hadi Rudyatmo, pun mengkritik KPSI di bawah komando La Nyalla Mattalitti yang melarang pemain Indonesia Super League (ISL) untuk membela Timnas Indonesia.

“Lagipula klub-klub jangan melarang pemain untuk memperkuat timnas karena ini semua untuk kepentingan Merah Putih di event internasional,” pungkas mantan Ketua Umum Pengurus Cabang (Pengcab) Solo ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda