Scroll to Top

PSSI: Mengenang Indahnya Catatan Prestasi Timnas Indonesia Di Masa Lampau

By Agus Prasetyo / Published on Sunday, 19 Aug 2012

Suporter Indonesia

PSSI melalui situs resminya, mencoba untuk bernostalgia mengenang masa-masa kejayaan Timnas Indonesia di masa lampau. Maklum konflik internal yang terjadi saat-saat ini, sedikit banyak memang mempengaruhi kondisi Timnas Indonesia.

Cerita berawal pada penampilan anak-anak muda Indonesia, kala itu di Olimpiade Melbourne 1956.

Ramang, Khairuddin Siregar, Kwee Kiat Sek, Phwa Sian Liong, Thio Him Tjiang, Tan Liong How dan kawan-kawan bermain sebagai patriot Indonesia menahan imbang tim raksasa Uni Soviet (0-0) sebelum akhirnya kalah 0-4 dalam partai ulang.

Hasil di perempat final Olimpiade Melbourne 1956 itu sangat istimewa, karena Uni Soviet akhirnya menjadi juara.

Tim Beruang Merah diperkuat kiper terbaik dunia sepanjang masa, Lev Yashin yang saat itu berusia 27 tahun.

Empat tahun kemudian diperkuat pemain-pemain yang sama, Uni Soviet juara Piala Eropa 1960.

Menurut catatan buku kecil pelatih Uni Soviet saat itu, Gavril Kachalin (seperti diceritakan almarhum Anatoly Polosin) bahwa Ramang dan Tan Liong How sempat melepaskan empat tendangan keras ke gawang Uni Soviet dan berhasil digagalkan Yashin.

Setelah Melbourne 1956, timnas Indonesia juga mencatat prestasi yang patut diingat dengan rasa cinta.

Indonesia mampu masuk perempat final Asian Games 1951, semifinal Asian Games 1954, urutan ketiga Asian Games 1958, perempatfinal Asian Games 1966, perempatfinal Asian Games 1970 dan perempatfinal Asian Games 1986.

Di event internasional lainnya, Indonesia juga menjadi juara Merdeka Games di Kuala Lumpur, empat kali (1960, 1961, 1962, 1969).

Juara Agha Khan Gold Cup di Dacca, empat kali (1961, 1966, 1967, 1968) dan King’s Cup di Bangkok, satu kali (1968).

Di tim Asian All Stars 1966-1970, tercatat empat pemain Indonesia yakni Soetjipto Soentoro, Jacob Sihasale, Iswadi Idris dan Abdul Kadir. Bahkan sang legenda, Soetjipto Soentoro menjadi kapten kesebelasan.

Ketika kompetisi semiprofesional Indonesia (Galatama) bergulir 1979, Federasi Sepakbola Jepang (JFA) mengirim utusan untuk berguru.

Hasilnya kompetisi profesional Jepang (J-League) bergulir sejak 1993 dan yang terbaik di Asia sampai saat ini.

Timnas Indonesia juga pernah mencatat kemenangan besar (12-0) atas Filipina pada 22 September 1972 di Seoul Korea Selatan. Juga menang (13-1) atas Filipina di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 23 Desember 2002.

Tetapi situasinya sekarang sudah berubah. Filipina berada di peringkat 150 FIFA, lebih baik dari Indonesia (peringkat 159 FIFA).

Pelatih-pelatih hebat timnas Indonesia yang mengharumkan Merah Putih juga harus diberi apresiasi.

Mulai dari Antun ‘Toni’ Pogacnik, E.A. Mangindaan, Wiel Coerver, Endang Witarsa, Djamiat Dahlar, Sinyo Aliandoe, Bertje Matulapelwa, Anatoly Polosin, dan seterusnya.

Lantas bagaimanakah dengan Timnas Indonesia sekarang ini? Banyak pihak berharap agar Timnas Indonesia bisa kembali berprestasi seperti cerita-cerita di masa lalu.

Tagged as:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda