Scroll to Top

El Clasico 2010—2011: Rivalitas Luar Lapangan

By Fitra Firdaus / Published on Sunday, 15 May 2011

Barcelona vs Real MadridMeskipun Liga Spanyol dianggap sebagai salah satu liga terbaik dunia (selain Liga Inggris dan Liga Italia), sebenarnya, juara Liga Spanyol tidak bisa dijauhkan dari dua seteru abadi, Barcelona dan Real Madrid; keduanya seolah hanya bergantian menjadi raja Spanyol. Musim 2010/2011, perseteruan kedua tim semakin seru karena mereka lima kali bersua (biasanya hanya dua kali di liga). Tensi pertandingan pun selalu panas. Barcelona yang berpredikat sebagai juara bertahan Liga Spanyol dengan kesuksesan program pembinaan La Masia, bertempur dengan Real Madrid, runner-up Liga Spanyol tahun lalu yang seolah bisa membeli pemain mana pun ke Santiago Bernabeu.

Musim 2010/2011 diawali dari bergabungnya Jose “The Special One” Mourinho ke kubu El Real. Didatangkannya Mou bukan tanpa alasan. Musim sebelumnya, di tangan Bernd Schuster, El Real memang bisa menjadi runner-up; namun mereka kalah dari El Barca. Maka, Mourinho yang pernah menjegal Barcelona ketika menangani Porto dan Chelsea menjadi pilihan utama Real Madrid demi mematahkan dominasi El Barca. Bersama Mourinho, Real Madrid juga memboyong beberapa pemain, di antaranya: duo Jerman (Mesut Oezil dan Sami Khedira), Angel di Maria sang sayap Argentina, dan Emanuel Adebayor dari klub kaya Inggris, Manchester City, pada paruh musim. Sementara itu, Barcelona yang kehilangan Yaya Toure (ke Manchester City) dan Zlatan Ibrahimovic (ke AC Milan) di antaranya mendapatkan David Villa; dan Ibrahim Affelay pada pertengahan musim.

Selalu Kartu Merah

Perang pertama El Clasico terjadi di Camp Nou. Di sini, Real Madrid seperti diajari cara bermain sepakbola oleh Barcelona. Tidak tanggung-tanggung, El Real dipecundangi 5-0 plus kartu merah untuk Sergio Ramos. Pertemuan kedua, di lanjutan La Liga (Liga Spanyol), kedua tim bermain seri 1-1 dengan dua gol penalti yang dilesakkan dua bintang kedua kubu, Lionel Messi dari Barcelona dan Cristiano Ronaldo dari Real Madrid. Untuk pertama kalinya Messi mampu mencetak gol ke gawang tim asuhan Jose Mourinho dan untuk pertama kalinya pula Ronaldo mencetak gol ke gawang Barcelona. Pertandingan ini lagi-lagi diwarnai dengan dikartumerahkannya Raul Albiol. Konon, Jose Mourinho sendiri yang berkata bahwa ia telah menyiapkan taktik bermain 10 orang melawan El Barca. Ucapan ini, oleh beberapa kalangan yang memandang Mou negatif, menunjukkan niat Mou mencederai pemain El Barca agar Madrid bisa menang. Jika dilihat, memang ada kecenderungan para pemain Madrid seolah tidak berniat mengambil bola, tetapi mengambil kaki lawan. Anehnya pula, jika Real Madrid bertemu Barcelona, mereka cenderung bermain defensif. Padahal, jika melawan tim lain, Madrid berani menyerang.

Pertemuan ketiga terjadi di final Copa del Rey. Kali ini Madrid menang lewat gol tunggal Cristiano Ronaldo di babak perpanjangan waktu. Namun, lagi-lagi pemain Madrid diberi kartu merah. Adalah Angel di Maria yang tertimpa sial di menit terakhir pertandingan. Dengan kemenangan ini, Madrid berkoar bahwa mereka akan tampil lebih hebat lagi di dua pertemuan sisa di Liga Champions. Namun, dua pertandingan terakhir malah menjadi neraka bagi Madrid.

Skandal Bernabeu

First leg semifinal Liga Champions digelar di Santiago Bernabeu. Kartu merah kembali melayang ke kubu Madrid setelah kaki Pepe seolah hendak memakan kaki Dani Alves. Gara-gara Pepe keluar pula, menurut fans Madrid, Barcelona berhasil menang melalui dua gol Lionel Messi. Gol pertama menyambut umpan Ibrahim Affelay, dan kedua melalui solo run melewati lima pemain El Real. Protes pun dilayangkan Madrid. Mereka menunjukkan rekaman bahwa Dani Alves hanya melakukan diving; kaki Pepe tidak menyentuh kaki Alves sama sekali. Madridista juga mengklaim, jika Pepe tidak dikartumerah, cerita akan lain walaupun bahkan ketika pemain Madrid genap 11 orang, Barca bahkan bisa menguasai bola di atas 70%. Mourinho bahkan menyinggung tentang adanya konspirasi wasit mendukung El  Barca. Sebelum pertandingan, Guardiola memang sempat mengeluhkan wasit asal Portugal, Pedro Proenca, yang awalnya ditunjuk UEFA untuk memimpin pertandingan. Sebagai gantinya, UEFA menunjuk wasit Wolfgang Stark, yang konon pengagum berat Messi. Mou bahkan menyebut, jika Barcelona juara Liga Champions, mereka menang berkat skandal Bernabeu.

Leg kedua semifinal Liga Champions di Camp Nou, Madrid kehilangan Mourinho, Pepe, dan Sergio Ramos (nama terakhir tidak bisa ikut karena akumulasi kartu). Dalam pertandingan yang penuh dengan drama, aksi-aksi teatrikal pemain Barcelona dan Real Madrid, kedua tim bermain imbang. Barcelona mencetak gol melalui Pedro, yang sangat dibenci Madridista karena sering diving. Sementara itu Marcelo, yang konon dipanggil “kera” oleh Sergio Busquests menyelamatkan muka Madrid. Tidak ada kartu merah untuk pemain Madrid. Namun, gol Gonzalo Higuain dianulir karena Cristiano Ronaldo dianggap melanggar Javier Mascherano. Lagi-lagi, Madrid seperti mendapatkan angin untuk mengambinghitamkan wasit atas kekalahan mereka dari Barcelona.

Perang Luar Lapangan

Perseteruan Madrid dan Barcelona memang bukan hal baru. Namun, sejak Mourinho datang, tampaknya tensi semakin memanas. Madrid yang tidak sedikit menggelontorkan uang, bahkan dinilai beberapa kalangan tidak dewasa dalam menanggapi kekalahan. Sementara itu, Barcelona yang para pemainnya sering berakting berlebihan, bahkan mendapatkan gelar “Bancilona” oleh Madridista Indonesia. Semestinya memang perseteruan yang paling baik adalah perseteruan di lapangan; ketika kedua tim beradu taktik. Sayangnya, kali ini kita melihat perang El Clasico lebih “seru” di luar lapangan.

2 thoughts on “El Clasico 2010—2011: Rivalitas Luar Lapangan”

  1. Pingback: Bye-Bye Ronaldo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda