Scroll to Top

Sampang Madura: Bukan Konflik Sunni-Syiah

By Fitra Firdaus / Published on Tuesday, 04 Sep 2012

Konflik Sunni - Syiah

Konflik antarwarga di Sampang, Madura, Jawa Timur, sering disebutkan meletus karena masalah perbedaan mahzab  Sunni dengan Syiah. Namun, sejatinya konflik ini lebih disebabkan oleh masalah cinta.

Minggu, 26 Agustus 2012, terjadi bentrokan Sunni-Syiah di Sampang, Madura. Berawal dari penghadangan para pelajar Syiah yang hendak berangkat ke Bangil, Pasuruan, kejadian ini berlanjut dengan pembakaran rumah mereka oleh para pemuda antisyiah. Bentrokan pun tidak terelakkan lagi. Dua orang tewas, 49 rumah terbakar, serta 282 warga harus mengungsi.

Dan karena pelaku bentrokan ini adalah penganut dua mahzab berbeda, Sunni dan Syiah, media kemudian ramai-ramai menyebut perbedaan mahzablah yang menjadi penyebabnya. Padahal, tidak demikian.

Konflik ini sendiri awalnya sama sekali tak berkaitan dengan perbedaan mahzab. Demikian yang disampaikan oleh Kepala Polda Jawa Timur, Inspektur Jenderal Hadiatmoko, seperti dikutip Kompas (3/9).

“Jangan sebut konflik antara Syiah dan Sunni. Ini permasalahan asmara.”

Pernyataan Kapolda Jawa Timur ini selaras dengan fakta di lapangan. Sejak awal, dituturkan oleh Hertasning Ichlas, Ketua Bidang Media dan Publikasi Ahlul Bait Indonesia, seperti dikutip Gatra (27/8), awalnya ini adalah sengketa percintaan yang melibatkan Tajul Muluk, ustad kelompok Syiah, dengan Rois Al-Hukuma. Keduanya adalah kakak beradik.

Tahun 2005, Rois berniat menikahi salah satu santri putri Tajul Muluk yang bernama Halimah. Namun, niatan ini ditolak karena menurut Tajul Muluk, Rois tidak berkelakuan baik, tukang kawin. Halimah dinikahkan dengan orang lain oleh Tajul Muluk, dan hal inilah yang membuat Rois berang.

Sebelum penolakan ini, Rois adalah penganut Syiah. Namun, kemudian ia keluar dari mahzab tersebut dan beralih menjadi seorang Sunni. Sejak saat itulah Rois, membakar orang-orang di sekelilingnya, yang tidak menyukai Tajul Muluk, untuk bermusuhan dengan sang ulama Syiah. Tema yang diangkat adalah kesesatan Syiah. Danm sejak tahun 2006 pula, muncul penolakan dari warga kebanyakan terhadap ajaran yang disampaikan Tajul Muluk.

Sebelum kejadian akhir Agustus 2012 lalu, sudah terjadi bentrokan pada Desember 2011. Ketika itu, terjadi pembakaran rumah, madrasah, dan mushola kelompik Syiah. Hampir 90% warga Syiah setempat diungsikan karena hal tersebut.

(Kompas/Gatra)

Foto: ANTARA/Saiful Bahri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda