Anggota DPR Kepergok Plesiran di Eropa dengan Dalih Studi Banding Logo Palang Merah

Anggota DPR

Para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mungkin memang sudah putus urat malunya. Di tengah kondisi rakyat yang masih sering prihatin, sebanyak 20 anggota DPR justru plesiran ke Eropa, yakni ke Denmark dan Turki, dengan dalih melakukan studi banding logo Palang Merah di kedua negara tersebut.

Apesnya, para anggota dewan yang terhormat itu kepergok sedang bersuka-ria menyusuri Copenhagen Channel (Sungai Copenhagen) dengan perahu wisata. Menurut laporan dari foto detik.com, Kamis (06/09/2012), setidaknya terdapat 8 anggota DPR, belum termasuk anggota rombongan lainnya, yang terlihat sedang asyik bercanda-ria di atas perahu wisata di Nyhavn, Copenhagen, Denmark.

“Anggota DPR yang sedang berkunjung ke Denmark untuk membahas logo PMI terlihat sedang turut tur sekitar kanal di Copenhagen Channel. Foto diambil sekitar pukul 14.30 siang ini waktu setempat,” ungkap sumber detik.com yang enggan dipublikasikan identitasnya.

Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR-RI, Ignatius Mulyono, yang juga ikut dalam rombongan ke Denmark ogah memberikan keterangan rinci terkait foto tersebut. Ia sendiri mengaku tidak ikut plesir bersama kawanannya yang lain dengan dalih baru saja sembuh dari sakit.

“Saya kan tidak se-fit mereka, saya kemarin juga habis sakit,” kilahnya.

Logo PMI

Dua Pilihan Logo Palang Merah yang Harus Distudi-bandingkan ke Eropa oleh 20 Anggota DPR-RI

Anggota DPR yang berangkat ke Eropa berjumlah total 20 orang untuk mencari rujukan dalam menentukan logo Palang Merah di Indonesia. Persoalan logo PMI itu, apakah memakai lambang Palang Merah atau diganti dengan lambang Bulan Sabit Merah layaknya di negara-negara Islam, diakui tidak kelar dibahas di dalam rapat.

“Ke sana untuk pemilihan lambang Palang Merah karena perdebatan di Baleg tidak selesai-selesai. Ada yang minta lambang Bulan Sabit Merah dan Red Cross, makanya kita mengecek ke negara asal lambang tersebut,” jelas Ignatius Mulyono sebelum terbang ke Eropa.

Menurut yang dihimpun Forum Investigasi dan Advokasi Indonesia untuk Transparasi Anggaran (FITRA), studi banding ke dua negara Eropa itu menghabiskan biaya tidak kurang dari Rp1,2 miliar, hanya untuk mengecek logo yang sebenarnya bisa dituntaskan dengan relatif mudah dan cepat dari dalam negeri sendiri.

Komentar Anda

Leave A Response