Scroll to Top

Innocence of Muslim: Kebebasan Berpendapat dan Agama

By Fitra Firdaus / Published on Wednesday, 19 Sep 2012

Innocence of Muslim

Film Innocence of Muslim yang dibuat oleh Nakoula Basselay Nakoula (mengaku bernama Sam Bacile) menggambarkan sosok Nabi Muhammad saw. yang jauh dari kenyataan. Film yang terkategori sebagai film anti-Islam ini di satu sisi bisa dikatakan sebagai bentuk paling ‘ekstrem’ berkaitan dengan kebebasan berpendapat. Yaitu, ketika kebebasan ini beradu dengan agama.

Film Innocence of Muslim yang melecehkan Nabi Muhammad saw. mengundang protes keras dari umat Islam di seluruh dunia. Mulai dari Libya hingga Indonesia, memberi pernyataan tegas bahwa film tersebut melukai hati umat. Bahwa ada permintaan serius agar sang pembuat film, Nakoula Basselay Nakoula, dihukum berat karena perbuatannya yang dikategorikan menistakan agama.

Di Mesir, tempat asal Nakoula Basselay Nakoula, hukuman mungkin saja berlaku. Ia bisa dikenai pasal penghinaan terhadap agama yang akan mendapat hukuman tiga tahun penjara. Mungkin pula sang pembuat film akan mendapat tuntutan lebih serius, yaitu mengancam keamanan negara, yang bisa berakhir dengan hukuman jauh lebih berat.

Namun, tidak demikian di  Amerika, negeri tempat Nakoula bermukim. Kebebasan berpendapat adalah hal yang sangat dijunjung di Amerika Serikat. Pada kenyataannya, di negara tersebut, membuat film yang melecehkan figur penting dalam sebuah agama, tidak dianggap sebagai sesuat yang ilegal. Dan dengan demikian, tidak dapat dituntut secara hukum.

Pemerintah setempat juga tidak bisa memerintahkan paksa penghapusan video film Innocence of Muslim yang diunggah ke Youtube. Meskipun efek yang ditimbulkan oleh film ini sudah begitu besar, Amerika Serikat kesulitan untuk menjerat Nakoula dengan peraturan yang mengikat mereka.

Pada titik ini, terjadi paradoks.  Kita tidak hanya sekali ini mengalami kejadian ini. Pernah ada kartun yang dibuat untuk “berhumor” seputar Rasulullah pada 2007 dan 2008. Sesuatu yang di negeri-negeri Eropa Barat (dalam konteks ini Swedia dan Denmark) dianggap sebagai kebebasan berekspresi. Padahal, bagi umat Islam, pelecehan Nabi Muhammad saw. adalah sebuah hal serius.

Apa yang terlihat boleh-boleh saja di sebuah tempat, mungkin saja merupakan hal ofensif di negeri lain. Kebebasan berekpresi dan berpendapat, adalah sesuatu yang mutlak. Namun, semestinya kebebasan tersebut tidak mengganggu atau melukai orang lain. Dan bagi pihak yang tersakiti, dalam hal ini umat Islam, menyerang balik sebuah kejahatan dengan sebuah kejahatan baru, adalah sesuatu yang bertentangan dengan semangat Rasulullah untuk menegakkan umat yang satu.

Menarik untuk memahami kalimat Khalid Amayreh, seorang muslim di Hebron, Tepi Barat, dari dua sisi berbeda. “Kami memahami Amandemen I Konstitusi Amerika Serikat (yang menjamin kebebasan berpendapat). Namun, Anda juga mesti memahami bahwa bagi kami, Rasulullah jutaan kali lebih suci (lebih utama) daripada Konstitusi Amerika Serikat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda