Scroll to Top

Novel Baswedan: Korban Kepentingan Politik?

By Fitra Firdaus / Published on Tuesday, 09 Oct 2012

POLRI DAN KPK

Novel Baswedan, penyidik KPK, tiba-tiba saja menjadi terkenal. Penyidik yang pernah menangani kasus-kasus korupsi penting ini, diambil oleh polisi di kantor KPK atas dugaan keterlibatan penembakan pencuri burung walet pada medio 2004. Padahal, Novel tengah menangani kasus simulator SIM. Pidato SBY tentang penangkapan Novel yang tidak tepat waktu, tetap saja menimbulkan tafsir berbeda. Apakah ia menjadi korban kepentingan politik? Ataukah ia tengah menjadi ‘korban’ dalam adu kekuatan KPK vs Polri?

Novel Baswedan memiliki track record apik selama masa penugasannya di KPK. Ia memimpin sejumlah operasi tangkap tangan KPK. Ia juga berperan besar dalam menguak kasus korupsi wisma atlet. Kini, ketika kasus simulator SIM tengah mengemuka, Novel dihadapkan pada masa-masa sulit.

Kasus yang ‘menghilang bertahun-tahun’ hidup kembali. Novel pernah tersangkut masalah penembakan pencuri burung walet saat bertugas di Bengkulu pada tahun 2004. Sebuah momen yang terlalu kebetulan, kasus ini digunakan untuk membawa Novel dari KPK ketika korupsi simulator SIM terangkat. Ketika revisi UU KPK tengah digodok. Banyak yang kemudian menganggap ini sebagai langkah pelemahan KPK.

Jauh-jauh hari, badan super pemberantasan korupsi ini, sudah sering didera masalah ‘pelemahan’. Tengoklah kasus Antasari Azhar yang pernah didakwa menjadi otak pembunuhan Nazarudin Zulkarnain. Ada pula ketika Bibit-Chandra, dua ketua KPK, diperkarakan sehingga muncul istilah “Cicak vs Buaya”. Keadaan KPK yang dianggap memiliki ‘otoritas tanpa batas’ inilah yang konon membuat mereka diincar untuk digembosi. Terutama pihak-pihak yang kegerahan dengan sepak terjang mereka.

Kini, Novel Baswedan dihadapkan dalam posisi yang sama. Bahkan meski Presiden SBY sudah mengeluarkan solusi seputar dirinya. Bahwa, penangkapan Novel Baswedan tidak tepat waktunya. Namun, apa yang bisa ditafsirkan dari ucapan ini? Apakah berarti, Novel tak bersalah? Apakah bermakna, kasus Novel dihentikan? Ataukah, hanya ucapan yang bisa ditafsirkan, “sementara tunda dulu sampai keadaan tenang, barulah kasus Novel (berkaitan dengan kejadian di Bengkulu pada 2004) ini kembali dituntaskan.”

Mabes Polri sendiri, berkeras bahwa proses kasus Novel tetap berlanjut. Sebagai catatan, kelanjutan ini menunggu waktu dan mekanisme yang tepat, sesuai dengan penafsiran terhadap pidato presiden.

“Ya kan hukum harus berlanjut, jika terbukti akan ke pengadilan, jika tidak akan di SP3,” kata Brigjen Suhardi Alius seperti dikutip Republika (9/10).

Sementara, fraksi PAN, dengan semangat pembuktian terlibat atau tidaknya Novel, juga meminta kasus itu diproses.

“Peristiwa penembakan terhadap pencuri sarang burung walet di Bengkulu pada tahun 2004 lalu yang diduga melibatkan Novel saat bertugas di Polda Bengkulu diduga tindakan melanggar hukum,” kata Taslim Chaniago, politisi PAN seperti dikutip JPNN.

Kepentingan politik apakah yang bermain di belakang kasus Novel Baswedan ini?

Foto: humas.polri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda