Scroll to Top

PSSI Atau KPSI, Mana yang Harus Dibela?

By Aditya / Published on Friday, 19 Oct 2012

La Nyalla - Djohar Arifin

Konflik akut yang melanda persepakbolaan nasional dengan menampilkan dua kubu yang saling berseteru, yakni PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin dan KPSI pimpinan La Nyalla Mattalitti, terus saja bergulir. Lantas, siapakah yang harus dibela? Apakah PSSI-nya Djohar atau KPSI-nya La Nyalla?

Jawabannya hanya dua kata: tidak ada! Ya, kedua belah pihak adalah gerombolan orang yang justru akan menghancurkan sepakbola Indonesia dan membuat perpecahan di segala lini. Tak percaya? Lihat saja dampaknya sekarang. Dualisme kompetisi, dualisme klub, dualisme kepengurusan, dan dualisme timnas telah menyebabkan efek domino di banyak sektor.

Di kalangan suporter klub, misalnya. Dulu, sebelum konflik PSSI terjadi, ”pertikaian” antar pendukung klub ”hanya” berkutat di ranah yang barangkali masih bisa dianggap wajar lantaran faktor historis masing-masing klub, semisal yang terjadi antara Aremania dengan Bonekmania, atau Jakmania versus Bobotoh. ”Permusuhan” antar laskar seperti ini lazim terjadi di manapun, termasuk di negara-negara Eropa.

Sekarang, dengan munculnya dualisme kompetisi, yakni Indonesia Super League (ISL) dan Indonesia Premier League (IPL), secara garis besar barisan suporter di Indonesia terpecah menjadi dua yaitu pendukung masing-masing liga tersebut. Parahnya, kedua kelompok besar ini saling menghujat satu sama lain, seperti yang marak terbaca di kolom komentar dalam media-media online atau jejaring sosial.

Begitu pula dengan dualisme klub. Dibentuknya klub-klub kloningan tak pelak telah memecah-belah suporter di internal klub itu sendiri. Juga dualisme kepengurusan yang telah menjadikan basis pecinta sepakbola Indonesia terbelah, yakni mendukung PSSI atau KPSI.

Lebih miris lagi adalah dualisme timnas. Setelah menjadi dua kubu, timnas yang seharusnya menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia justru menjadi ajang saling caci dan saling maki di tataran akar rumput.

Lantas, siapa sebenarnya yang salah? Jawaban yang mungkin paling ideal adalah semua salah! PSSI maupun KPSI tampaknya tidak punya itikad baik untuk memperbaiki kondisi yang terlanjur hancur seperti sekarang ini. Sampai kapanpun, jika orang-orang yang sama masih bercokol, sepakbola Indonesia dijamin tidak bakal maju.

Yang menjadi korban tentu saja para pecinta sepakbola nasional, termasuk orang-orang yang bekerja di ranah tersebut. Apakah seorang jurnalis yang menulis tentang kesalahan yang dilakukan oleh PSSI sendiri lantas serta-merta diklaim sebagai antek KPSI? Pastinya tidak, bukan? Setiap peristiwa yang menarik patut tentunya untuk disiarkan, dalam konteks ini menyangkut PSSI, KPSI, dan pihak-pihak terkait lainnya.

Tak hanya jurnalis, hal tersebut juga berlaku untuk para pembawa acara dan komentator sepakbola, serta pekerjaan-pekerjaan lain yang mau tidak mau harus bersinggungan dengan kisruh sepakbola nasional. Cobalah belajar bijak dan berpikir lebih luas sembari berharap kesembuhan sepakbola Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda