Scroll to Top

Ajax Amsterdam: Juara di Tikungan Terakhir

By Fitra Firdaus / Published on Monday, 16 May 2011

Ajax AmsterdamStadion Amsterdam ArenA pada Minggu, 15 Mei 2011, yang dipadati lebih dari 51.000 penonton menjadi saksi betapa sengitnya persaingan Liga Belanda musim ini. Kala liga-liga besar Eropa seperti Liga Spanyol, Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Jerman sudah menentukan sang juara beberapa pertandingan sebelum penghujung musim, Liga Belanda justru kebalikannya. Dua tim terkuat Liga Belanda musim ini, Ajax Amsterdam dan FC Twente, bertarung hingga titik darah penghabisan.

Nostalgia KNVB Cup

Sebelum bertolak ke Amsterdam, FC Twente berada di peringkat pertama klasemen dengan poin 71. Sementara itu, Ajax yang senantiasa menguntit, berada di posisi kedua dengan 70 poin. Dengan demikian, cukup menahan seri de Godenzonen saja, Twente bisa dipastikan menjadi juara.

Apalagi, FC Twente yang berjuluk The Tukkers tengah diselimuti euforia luar biasa. 7 hari sebelumnya, mereka berhasil menggondol KNVB Cup di Stadion de Kuip Rotterdam setelah menaklukkan sang rival musim ini, Ajax. Kemenangan Twente di KNVB Cup tersebut sangat spektakuler. Tertinggal 0-2 terlebih dahulu, pasukan asuhan Steve McClaren ini pantang menyerah hingga membalas 3 gol tanpa balas. Gol terakhir dicetak oleh Marc Janko pada babak extra time. Pantas saja jika kali ini Twente datang dengan kepala tegak sedangkan Ajax dipenuhi dendam kesumat.

Balas Dendam

Di depan pendukungnya sendiri, Ajax tampil tanpa ampun. Mereka unggul pada menit 23 melalui Siem de Jong. Pada menit 47, Denny Landzaat menciptakan gol bunuh diri sehingga Twente tertinggal 0-2; nyaris sama seperti final KNVB Cup. Tersulut gairah mesti menang, Twente berhasil membalas melalui Theo Janssen hanya semenit dari gol bunuh diri Landzaat. Kedudukan 2-1. Namun, tak mau mengulang tragedi tujuh hari sebelumnya, Ajax berhasil mencetak gol krusial di menit 78 lagi-lagi melalui Siem de Jong; gelandang bernomor punggung 10 ini mencetak gol ke-12nya di Liga Belanda sekaligus gol ke-17-nya untuk mengangkat moral de Amsterdammers tinggi-tinggi. Di sisi lain, gol Siem de Jong ini mematikan mental para pemain Twente. Hasil akhir 3-1 untuk Ajax ini membuat nilai mereka menjadi 73, unggul dua poin dari Twente, dan berhasil merebut gelar Eredivisie (Liga Belanda) ke-30. Gelar Eredivisie terakhir mereka terjadi pada musim 2003-2004; artinya selama 7 tahun terakhir, juara liga tidak dirasakan de Amsterdammers.

Memang Yang Terbaik

Ajax sendiri layak menjuarai Eredivisie musim ini. Mereka mencatat 22 kali kemenangan dan 7 kali imbang dari 34 pertandingan. Ajax juga menjadi tim tersedikit yang kebobolan, hanya 30 gol dari 34 pertandingan. Sementara itu, untuk urusan mencetak gol, Ajax hanya kalah dari PSV yang mengemas 79 gol (Ajax mencetak 72 gol). Tampaknya, kepergian Luis Suarez ke Liverpool pada pertengahan musim tidak terlalu berpengaruh pada Ajax. Duo striker, Mounir El Hamdaoui dan Miralem Sulejmani total mengemal 21 gol untuk tim mereka. Yang lebih sensasional, dalam 6 pertandingan di liga terakhir, Ajax selalu menang dengan torehan 16 gol. Kekalahan terakhir mereka di Eredivisie terjadi pada 20 Maret, ketika mereka ditaklukkan tuan rumah ADO Den Haag 3-2.

Raihan juara bagi Ajax yang terjadi pada penghujung musim ini mengingatkan kita pada peristiwa serupa yang pernah terjadi di Liga Italia, kala Lazio menyalip Juventus pada musim 1999/2000 dan di Liga Jerman, kala Bayern Muenchen melewati Bayer Leverkusen. Dapatlah kita berkata, Ajax juara pada tikungan terakhir.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda