Scroll to Top

Empat Teknologi Pencegah Kecelakaan dari Toyota

By Ilham Choirul / Published on Monday, 15 Aug 2011

Toyota merasa prihatin dengan tingginya angka kecelakaan di Jepang. Kebanyakan, dalam kecelakaan itu, korban didominasi oleh orang berusia 65 tahun ke atas dan para pejalan kaki. Toyota menyadari, harus ada teknologi baru yang mampu meningkatkan kewaspadaan berkendara

Untuk itulah Toyota mendirikan Collaborative Safety Research Center di USA. Bekerja sama dengan sejumlah universitas, rumah sakit, dan lembaga riset, pusat riset Toyota pun mengembangkan teknologi baru dalam keselamatan berkendara. Ada empat teknologi yang dikembangkan saat ini, yaitu:

  • ¬†Pre-Crash Safety (PCS) dengan collision-avoidance assist

PCS adalah teknologi Toyota yang dirancang untuk menghindari kecelakaan di jalan. Prinsipnya memakai alat radar milimeter-gelombang dan kamera miniatur. Keduanya bekerja terpadu dalam memantau jalan di depan yang dilalui mobil. Kala pengemudi kehilangan kendali, mereka bekerja untuk sebisa mungkin menghindari tabrakan. Tentu saja, efektivitasnya tetap melihat situasi dan kondisi saat itu.

Saat ini PCS dikembangkan untuk mengatasi keadaan yang lebih darurat. Kemampuannya dirancang pula untuk menganalisa faktor eksternal di jalanan. Seperti kendaraan lain yang mendekat, atau hambatan di pinggir jalan. Semua data yang masuk diolah untuk diproses seberapa jauh risiko kemungkinan terjadi tabrakan. Sehingga, mobil pun bisa selamat dari kecelakaan yang tidak diinginkan.

  • Pop-up Bonnet

Pop-up Bonnet berguna mengurangi cedera kepala pejalan kaki. Cara kerjanya, bagian belakang tudung mesin akan mengangkat untuk meningkatkan ruang antara tutup mesin dan mesin. Pengembangan tekonologi ini didapat dengan memanfaatkan data dari boneka konvensional dan Total Human Model for Safety (THUMS)

  • Adaptive Driving Beam

Seringkah Anda tersilaukan dengan sorot lampu mobil saat berpapasan dengan mobil lain? Nah, dua tahun lalu Toyota mengembangkan fungsi sorot otomatis. Dengan teknologi ini, sorot lampu depan mobil akan berkurang kekuatan sinarnya ketika berpapasan dengan sorot kendaraan lain dari arah berlawanan. Juga, kekuatan lampu akan berkurang saat di depannya ada sorot lampu dari bagian belakang mobil lain. Fungsi ini bekerja melalui bantuan kamera yang tertanam di mobil. Lampu depan akan kembali benderang setelah tidak ada lagi sorot lampu dari kendaraan lain yang menuju kepadanya.

Pada Adaptive Driving Beam (ADB), dikembangkan teknologi agar mata pengendara dari arah yang berlawanan tidak silau oleh sorot cahaya lampu depan.

  • Emergency response technology

Dengan teknologi ini, mobil mampu memonitor fungsi kardiovaskular dengan memanfaatkan lingkaran kemudi. Pendeteksian risiko kardiovaskular berlangsung ketika pengemudi mencengkram lingkaran kemudi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda