Scroll to Top

Virus Baru Sosial Media : Please ReTweet

By Aisyah Indarsari / Published on Monday, 15 Aug 2011

Ada fenomena baru di dunia sosial media. Atau lebih tepatnya hal ini sedang marak berlangsung di Twitter, yaitu fenomena memohon untuk me-RT tweet kita.

Seperti kita ketahui, ReTweet atau RT adalah suatu interaksi yang diberikan para pembaca tweet kita terhadap subjek yang sedang kita bicarakan. Seperti halnya komentar pada posting di wall Facebook kita.

Saat ini yang sedang marak terjadi, adalah permohonan beberapa pengguna Twitter yang mencantumkan kalimat “Please ReTweet” pada tweet nya.  Hal ini diperkuat dengan data yang dirilis oleh LocalWebMedia yang menyebutkan daftar kata-kata yang paling sering di tweet sebagai berikut:

 

Mungkin bukan sesuatu hal yang aneh jika secara spontan kita mengharapkan pendapat atau komentar atas tweet kita, akan tetapi bahkan kenyataan yang terjadi, sampai-sampai ada beberapa pengguna Twitter yang memohon teman-temannya untuk me-RT tweet salah satu saudara atau teman lainnya yang jarang sekali atau bahkan tidak pernah mendapatkan RT. Cukup menyedihkan!

Tentu saja hal ini cukup banyak menimbulkan pro dan kontra diantara para pengguna Twitter sendiri. Pihak yang pro menyatakan bahwa hal tersebut sah-sah saja, karena selain berfungsi sebagai pengingat bagi para pembaca untuk berkomentar terhadap tweet kita, akan banyak masukan baik yang positif maupu negatif untuk diri kita.

Sedangkan pihak yang kontra pun punya pendapat sendiri. Mereka menganggap hal ini seperti “mengemis” meminta perhatian para pembaca tweet kita. Dari sekian banyak tips agar tweet kita terlihat menarik, mengapa harus menggunakan cara memohon tersebut? Akan lebih baik jika pembaca yang menentukan, informasi mana yang berguna dan bermanfaat baginya.

Cukup banyak hal yang bisa dinilai dari fenomena baru ini. Tampaknya pengguna sosial media, atau dalam hal ini Twitter khususnya, banyak yang sangat memperdulikan eksistensinya di dunia maya ini. Permohonan “Please ReTweet” bisa mencerminkan rasa frustasi karena selama ini mereka kurang atau bahkan tidak pernah mendapatkan apresiasi pada akun sosial media nya.

Jika diteruskan, hal ini tentu kurang baik bagi para pelaku tersebut. Karena frustasi yang berkepanjangan, bukan tidak mungkin mereka bisa melakukan sesuatu hal yang diluar batas kewajaran.

Mungkin bagi Anda, hal ini cukup sepele. Akan tetapi bagi sebagian orang, merasa dihargai adalah sesuatu hal yang sangat penting. Akan tetapi, apakah perlu sampai “mengemis” penghargaan diri di sosial media? Bukankan masih banyak issue yang lebih penting di dunia nyata?

Bagaimana menurut Anda? Perlukah menambahkan “Please ReTweet” pada tweet Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda