Scroll to Top

Teknologi Pengenalan Wajah Untuk Primata

By Ivan Azzam / Published on Monday, 15 Aug 2011

Kini teknologi  pengenalan wajah (facial recognition) tidak hanya bisa untuk manusia, tapi juga untuk simpanse dan gorila yang berguna untuk mengidentifikasi perbedaan mereka.

Teknologi semacam ini sangat membantu dalam menjaga fauna dan kehidupan liar dan melindunginya, sebagaimana dikatakan oleh peneliti.

Biasanya para ilmuwan atau peneliti menaruh kamera di tempat tertentu dan mengambil foto secara otomatis hewan-hewan yang ada. Namun metode seperti itu, para peneliti tidak yakin apakah mereka mendapat gambar dari hewan yang sama. Tentu ada banyak spesies yang hidup di alam liar dan wilayah tertentu, dan ini membantu hewan-hewan yang statusnya terancam agar bisa dilindungi.

Maka para ilmuwan mengembangkan cara ini untuk mengidentifikasi hewan (dalam hal ini baru terbatas pada primata, yaitu simpanse dan gorila) secara otomatis.

Studi terbaru menunjukkan bahwa, dikutip dari MSNBC, para peneliti menggunakan algoritma pengenalan wajah yang aslinya untuk wajah manusia, dikombinasikan dengan sistem yang menyaring gambar dan hanya mengambil bagian dimana wajah hewan bisa terlihat. Sistem ini juga dilengkapi dengan kemampuan meningkatkan pembelajarannya sendiri seiring waktu.

Dilakukan percobaan pada sekelompok 24 simpanse di kebun binatang di Leipzig di Jerman, dan ilmuwan mendapat rasio keberhasilan 83 persen.

Salah satu peneliti Alexander Loos, dari Fraunhofer Institute mengatakan bahwa hal tersebut benar-benar berhasil, seperti dikutip kepada LiveScience.

Namun, kata Loos, keberhasilan rasio sangat bergantung pada kualitas yang tinggi dari fotonya, dengan pencahayaan buruk atau bagian wajah yang tidak terlihat sebagian mengurangi hingga 60 persen.

Maka dari itu, para peneliti tersebut berniat meneliti lebih lanjut mengenai algoritma untuk meningkatkan secara cepat rasio pengenalan wajahnya, agar tidak hanya menganalisis seluruh wajah, namun juga mengenali bagian tubuh spesifik, seperti mata, mulut, dan hidung.

Juga ada software yang bisa menganalisis suara untuk mengidentifikasi tingkat bising, misalnya yang dibuat para hewan-hewan atau lainnya, dan bisa membantu mengenali orang-orang tertentu.

Sebagai tambahan lagi, para peneliti sedang mencari bagaimana cara mengenali aktivitas para primata dari video secara otomatis, dan ini, penting untuk mempelajari interaksi sosial dan perilaku mereka.

Saat ini, teknologi pengenalan wajah dan pendeteksi wajah berbeda satu sama lain. Maka para peneliti membuat aplikasi yang bisa kedua-duanya.

Para periset berasal dari Fraunhofer Institutes for Integrated Circuits and Digital Media Technology bekerjasama dengan Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology berharap mampu menyelesaikan proyek ini, bernama SAISBECO akhir 2013.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda