Scroll to Top

Bupati Garut Ceraikan Fani Oktora Karena Tidak Perawan

By Fitra Firdaus / Published on Friday, 30 Nov 2012

Bupati Garut Ceraikan Fani Oktora Karena Tidak Perawan

Cuma empat hari Fani Oktara menjalani pernikahan dengan Bupati Garut, Aceng Fikri. Perempuan berusia 19 tahun tersebut diceraikan oleh sang bupati melalui SMS karena sudah tidak perawan lagi. Tindakan Bupati Garut ini mengundang banyak reaksi miring dari masyarakat. Sementara sang bupati menikah siri, anak SD dan SMP Cibalong, Garut, berangkat ke sekolah dengan rakit.

Usianya baru 19 tahun. Demi melanjutkan kuliah di jurusan kebidanan, Fani Oktara menerima pinangan Bupati Garut, Aceng Fikri pada Juli 2012 lalu. Namun, kebahagiaan rumah tangga tak sempat dirasakan oleh pasangan ini. Empat hari berselang setelah pernikahan, sang bupati memutuskan untuk menceraikan perempuan muda ini, langsung dengan talak tiga. Hanya melalui SMS. Alasannya, Fani Oktara terbukti tidak perawan. Rentetan peristiwa ini pun bergulir; dan ramai diperbincangkan masyarakat.

Fani, di usia muda, membutuhkan biaya untuk melanjutkan kuliah. Sementara itu, Aceng Fikri tengah mencari istri lagi. Diberitakan Kompas, keduanya dihubungkan oleh KH Heri Ahmad Jawani, salah satu pimpinan pondok pesantren setempat. Hanya lewat dua pertemuan singkat, pasangan berbeda usia 22 tahun ini sepakat menikah. Disebutkan, saat pertemuan pertama, Aceng Fikri bersumpah bahwa dirinya sudah bercerai dengan istri pertamanya.

Ujang Sunaryo, seorang kerabat Fani menuturkan kepada Kompas, “Bupati saat itu langsung sreg dengan Fani dan ingin segera menikahinya. Saat itu, keluarga (Fani) tak percaya kalau bupati telah cerai dengan istri pertamanya. Tapi bupati saat itu sampai bersumpah telah duda. Akhirnya disepakati bertemu lagi yang kedua kalinya untuk menentukan tanggal pernikahannya.”

Sementara Aceng Fikri terlibat dalam dilema cinta, anak SD dan SMP di wilayahnya terlibat dalam dilema lain. Dikabarkan oleh Merdeka, puluhan siswa SD dan SMP Cibalong, kabupaten Garut, kembali bersekolah menggunakan rakit. Pasalnya, sungai meluap sedangkan jembatan yang menjadi penghubung utama, ambruk sejak Januari 2012. Ada pula siswa yang tak bisa bersekolah karena banjir ini. Siswa lain, rela naik sepeda motor mengambil jalan berputar dengan waktu tempuh satu jam.

Aceng Fikri sendiri, menyebutkan bahwa permasalahannya dengan Fani Oktara sudah selesai. Ia justru heran dengan dibesar-besarkannya masalah ini. Sang bupati menduga, bukan tidak mungkin ada motif politik di balik pengangkatan masalah ini.

Foto: Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda