Scroll to Top

Bupati Garut dan Pernikahan 4 Harinya di Mata Masyarakat

By Fitra Firdaus / Published on Wednesday, 05 Dec 2012

Bupati Garut

Bupati Garut, Aceng Fikri, tengah menjadi sorotan media pasca pernikahan empat harinya dengan Fani Oktora, gadis berusia 19 tahun. Karena mengetahui pasangannya sudah tidak perawan lagi, Aceng Fikri menceraikan Fani. Kontroversi berlanjut dengan ucapan sang bupati bahwa uang 250 juta yang dikeluarkannya selama pernikahan dengan Fani Oktora, lebih dari cukup untuk sekadar meniduri artis dalam semalam. Reaksi keras masyarakat pun bermunculan. Warga Garut melakukan demonstrasi untuk pelengserannya dan berbagai opini negatif untuk sang bupati pun tercetus. Ada yang menyebutkan Aceng Fikri gagal menjadi contoh yang baik sebagai pejabat publik. Ada yang meminta sang bupati berkaca dengan mengingat ibunya. Bahkan anak SD pun ikut mengkritik sang bupati.

Keputusan Aceng Fikri menceraikan istri yang baru dinikahinya selama empat hari pada Juli lalu, mengundang kontroversi. Ditambah dengan ucapan-ucapannya yang berusaha membenarkan tindakannya, sang bupati kini berhadapan dengan ‘pengadilan dari masyarakat’. Warga Garut melakukan demonstrasi agar ia turun dari jabatannya. Dan, banyak pendapat negatif seputar aksi pernikahan kilat Aceng Fikri.

Bupati Garut dan Pernikahan 4 Harinya di Mata Masyarakat

Pendapat tersebut meluncur misalnya dari Mahfud MD. Ketua MK ini menyebutkan bahwa Aceng telah melanggar banyak UU. Mahfud mengaku bahwa ia adalah salah satu orang yang kecewa dengan tindakan sang bupati. Semestinya seorang pejabat publik memberi contoh yang baik, bukan melakukan blunder fatal seperti Aceng.

“Aceng menyangkut pelanggaran etika, kemudian pelanggaran terang-terangan terhadap UU. UU perkawinan dia langgar, UU Perlindungan Anak dilanggar, UU KUHAP dilanggar,” sebut Mahfud seperti dikutip oleh Solopos.

Reaksi lain muncul dari para pengunjuk rasa. Seperti yang dikutip oleh Kompas, salah seorang pendemo, Hanifah (18 tahun) meminta agar Aceng Fikri berkaca, mengingat ibu kandungnya, yang sama-sama perempuan seperti halnya Fani Oktora.

“Saya minta Bupati ingat ibu kandungnya yang sama-sama perempuan. Bagaimana bupati melihatnya, sedih tidak? Kami minta Aceng turun dari jabatannya. Saya ingin juga Aceng itu, sebelum menghina perempuan, mengingat ibunya. Intinya sebagai perempuan kami kecewa,” kata Hanifah.

Sheila, anak SD berusia 10 tahun yang ikut mendemo Bupati Garut, juga mengutarakan pendapatnya. Dengan tutur kata polosnya, Sheila mempertanyakan sikap Aceng Fikri , “Masa bupati nikahin cewek cuma 4 hari,” kata Shela yang dimuat oleh detik.

Sementara masyarakat melakukan protes terhadap Bupati Garut, DPRD setempat sepakat agar Aceng Fikri dicopot dari jabatannya.

 “Usulan ini (pemberhentian Aceng Fikri) akan disampaikan kepada seluruh anggota Dewan saat paripurna nanti (hari ini),” sebut ketua DPRD Kabupaten Garut, Ahmad Badjuri yang dilansir langsung oleh situs resmi Departemen Dalam Negeri.

Foto: Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda