Scroll to Top

Arsenal Tujuh Tahun Puasa Gelar

By Fitra Firdaus / Published on Tuesday, 17 May 2011

Arsenal FCMusim 2010/2011, untuk kesekian kalinya Arsenal mesti gigit jari gagal meraup satu pun gelar juara. Tim yang dihuni para pemain muda ini kalah bersaing dengan Manchester United dan Chelsea; kerap kehilangan momentum; dan permainannya cenderung angin-anginan. Benarkah kegagalan mereka disebabkan oleh naik-turunnya mental The Young Gunners? Ataukah faktor strategi Arsene Wenger yang semakin mudah dibaca?

 

Yang Datang dan Yang Pergi

Musim ini diawali Arsenal dengan belanja striker Marouane Chamakh dari Bordeaux, bek Laurent Koscielny dari Lorient, dan Sébastien Squillaci dari Sevilla. Sementara itu, mereka kehilangan  Philippe Senderos (ke Fulham), William Gallas (ke Tottenham Hotspur), Mikaël Silvestre (ke Werder Bremen), Sol Campbell (ke Newcastle United), dan Eduardo da Silva (ke Shakhtar Donetsk). Gallas, Silvestre, dan Campbell memang sudah gaek. Senderos musim lalu dipinjamkan ke AC Milan dan Eduardo “kalah bersaing” dengan barisan penyerang lain seperti Robin van Persie, Nicklas Bendtner, dan sang juru gedor baru Chamakh.

 

Skuad Muda

Arsene Wenger tampaknya memang lebih suka pada pemain muda sejak beberapa musim terakhir. Pada posisi kiper, Wojciech Szczęsny dan Lukas Fabiansky diberi kesempatan bergantian menggantikan posisi Manuel Almunia. Pada posisi gelandang bertahan, nama Jack Wilshere mencuat dan menjadi salah satu pemain muda terbaik dunia. Sejauh ini, Wilshere menjadi pemain terbanyak tampil sebagai starter, 43 kali dan 48 kali bermain (5 kali sebagai cadangan). Catatan ini diikuti oleh Laurent Koscielny yang tampil 43 kali sebagai starter dan tidak penah masuk dari bangku cadangan dan Bacary Sagna yang tampil 42 kali sebagai starter. Duo ruh Arsenal di lini tengah, Samir Nasri dan Cesc Fabregas, meski sangat berbahaya, masih muda. Puncaknya, striker baru, Marouane Chamakh, yang diharapkan bisa menjadi meriam dahsyat, gagal. Dari total 43 kali tampil (26 sebagai starter), Chamakh hanya mencetak 11 gol, kalah dari Nasri yang 15 gol.

 

Kehilangan Momentum

Kesalahan paling fatal Arsenal musim ini adalah hilangnya momentum. Misalnya, setelah susah payah di Piala Liga, pada partai puncak, menghadapi Birmingham City yang berada setingkat di bawah mereka, The Gunners takluk 1-2. Dalam liga, tidak kalah ironis. Setelah beberapa kali membuang kesempatan kala Manchester United seri atau kalah, pada enam pertandingan terakhir musim ini, Arsenal hanya sekali menang, dua kali imbang, dan tiga kali kalah. Asumsi kebanyakan pengamat bahwa para pemain muda Arsenal bisa menyalip MU, tak terjadi.  Di Liga Champions, Arsenal gagal melaju ke 8 besar setelah ditaklukkan Barcelona 3-1 (agregat4-3) yang diwarnai kartu kuning kontroversial untuk Robin Van Persie.

 

Tidak Ada Pemain Bintang?

Jika dilihat bagaimana Arsenal selalu kalah pada pertandingan-pertandingan penting, tentu muncul pertanyaan: pentingkah pemain bintang yang berkarakter pemimpin; yang mungkin saja berusia uzur, tapi mampu membangkitkan semangat rekan-rekan mudanya di Arsenal? Kala Arsenal terakhir kali menjuarai Liga pada musim 2003-2004, ada nama Thierry Henry, Jens Lehmann, Ashley Cole, Sol Campbell, Dennis Bergkamp, Robert Pires, dan Pattrick Viera. Kini, meski para pemain muda The Gunners hampir selalu menampilkan permainan atraktif, tanpa kemenangan, rasanya permainan tersebut hambar.

Tagged as:

2 thoughts on “Arsenal Tujuh Tahun Puasa Gelar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda