Scroll to Top

Hati-hati, 44% Perusahaan Memonitor Akun Sosial Media

By Aisyah Indarsari / Published on Wednesday, 17 Aug 2011

Seakan tidak cukup hanya dengan melarang akses Facebook ataupun jejaring sosial media lainnya di perkantoran, penemuan yang dirilis oleh Mindflash dan Column Five seperti yang dikutip dari SimplyZesty ini cukup mengejutkan.

Sebanyak 44% perusahaan memiliki kebijakan yang memonitor penggunaan sosial media pegawainya baik didalam maupun diluar kantor. Walaupun survey ini diklaim sebagai survey global secara informal, akan tetapi belum ada kepastian bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia merupakan salah satu diantara populasi penelitiannya.

Jika ini benar-benar terjadi, kebebasan berekspresi yang bisa dituangkan dalam sosial media sepertinya sudah tidak ada lagi. Para pegawai perusahaan yang memiliki akun jejaring sosial, tampaknya harus selalu ekstra hati-hati dalam memposting status atau melakukan tweet mereka.

Walaupun secara moral hal ini cukup baik untuk kita gunakan sebagai pengingat akan batasan-batasan norma, akan tetapi secara tidak langsung, kreatifitas kita akan terhambat dengan adanya intervensi semacam ini.

Sebenarnya apa yang menyebabkan banyak perusahaan melakukan hal ini? Masih menurut Mindflash, ada dua kemungkinan pendekatan yang merupakan alasan perusahaan melakukan hal ini. Yang pertama adalah menjaga brand image perusahaan dengan cara apapun, dan yang kedua adalah memanfaatkan sosial media untuk meningkatkan brand awareness.

Menjaga brand image dengan cara ini, perusahaan berharap dapat menghindari kemungkinan adanya ancaman, tragedi, fitnah, bahasa-bahasa vulgar, rasisme dan yang paling penting bocornya informasi rahasia perusahaan yang menyebabkan image perusahaan turun atau bahkan hancur. Masih ingat kasus Prita Mulyasari, kan?

Sedangkan dengan melakukan intervensi pada pegawainya tentang sosial media, perusahaan lebih condong untuk memberikan pembelajaran brand awareness perusahaannya kepada pegawainya. Atau dengan kata lain sebisa mungkin pegawai memanfaatkan akun sosial media mereka untuk mempromosikan perusahaannya.

Langkah yang cukup jitu bagi perusahaan sebenarnya, tetapi bagaimana menurut Anda? Apakah Anda setuju jika perusahaan memperbolehkan akses sosial media tapi dengan syarat intervensi-intervensi seperti yang disebut diatas?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda