Scroll to Top

Aturan Mertua Bisa Menjadi Jalan Menuju Perceraian

By Ilham Choirul / Published on Wednesday, 26 Dec 2012

mertua menantu

Bagi wanita, membina dengan mertua bukanlah hal mudah. Sebab, keduanya seringkali memiliki problematika sendiri yang unik. Masalahnya, konflik yang terjadi di antara mereka bisa berubah menjadi malapetaka yang berujung pada perceraian jika tidak diselesaikan. Sebuah studi yang dilakukan University of Michigan Institute for Social Research mengatakan, ketika wanita diharuskan hidup mengikuti aturan mertua, berisiko 20 persen lebih tinggi mengalami perpisahan dengan suaminya.

Dr. Terri Orbuch, sang peneliti, mengatakan ada dua penjelasan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pertama, wanita perlu waktu lebih lama untuk membangun ikatan bersama mertuanya, dibanding menjalin ikatan bersama suami atau keluarganya sendiri. Kedua, saat wanita mengikuti aturan mertua, dia harus berhadapan dengan keinginan mertua yang bisa jadi adalah masukan atau bahkan bentuk ikut campurnya mertua dalam kehidupan keluarga kecilnya. Ini membuat hidup wanita tersebut menjadi serba salah. Dia juga tidak mampu menolak keinginan mertua yang mungkin bertentangan dengan prinsip yang dibangunnya bersama suami.

Walhasil, wanita hanya bisa mendengarkan dan patuh ketika pendapatnya harus berseberangan dengan mertua. Hal ini bisa membuat wanita tertekan kalau tidak segera diatasi.

 “Kuncinya adalah untuk mengubah persaingan menjadi kolaborasi. Ini jauh lebih mudah untuk mengatur batas-batas antara Anda dan mertua Anda saat Anda melakukan koneksi,”kata Dr Terri Apter dari Newnham College, Cambridge, seperti dikutip Times of India.

Sementara menurut Orbuch, peran suami sangat diperlukan di sini. Dia bisa menjadi jembatan bagi ibu dan istrinya untuk bisa menjalin hubungan dengan baik dengan tetap memperhatikan hak-hak dari masing-masing pihak. Sebab, saat pengaruh mertua terlalu besar dalam keluarga anaknya, maka persoalan dan konflik akan timbul. Pemisahan manajemen keluarga mesti dilakukan.

“Dia (pria) bisa mencegah masalah jika ia meyakinkan orangtuanya bahwa mereka masih merupakan bagian penting dari hidupnya, dia masih merasa terhubung dengan mereka, masih mencintai dan menghormati mereka. Sementara pada saat yang sama juga menunjukkan kepada mereka bahwa koneksi utamanya sekarang ini adalah dengan istrinya,” ujar Apter.

Studi ini diterbitkan dalam jurnal Family Relations.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda