Scroll to Top

Villa Tumpul, Torres Mandul

By Fitra Firdaus / Published on Tuesday, 17 May 2011

 

Kegelisahan menyelimuti pelatih Spanyol, Vicente del Bosque berkaitan dengan performa dua jugador timnas Spanyol  musim ini, David Villa dan Fernando Torres. Kedua striker yang mengantar Spanyol menjuarai Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010 ini tampil kurang memuaskan sepanjang akhir musim 2010/2011.

 

Villa Menurun

David Villa, pria kelahiran 3 Desember 1981, sebenarnya tampil lebih baik daripada “junior”-nya. Diboyong Barcelona dari Valencia dengan harga 40 juta, Villa sukses mengantar Barcelona menembus final Copa del Rey dan merebut gelar juara Liga Spanyol yang ketiga dalam tiga tahun terakhir. Pada pertandingan debutnya di Liga Spanyol, Villa langsung mencetak satu gol untuk membantu Barcelona menaklukkan Racing Santander dengan skor 3-0. Villa juga mencetak dua gol dalam El Clasico pada 29 November 2010; ia membantu Barca mencukur Real Madrid dengan skor sangat telak, 5-0. Pada akhir Desember 2010, Villa dinobatkan sebagai Atlet Pria Terbaik 2010 oleh the United States Sports Academy. Villa mengalahkan Rafael Nadal (petenis) dan Manny “Pacman” Pacquiao (petinju). Namun, kala paruh musim bergulir, Villa seperti kehilangan sentuhan untuk mencetak gol. Dalam empat laga El Clasico (1 di Liga Spanyol, 2 di Liga Champions, dan 1 di final Copa del Rey), ia tidak mencetak satu gol pun. Dalam 14 pertandingan terakhir, Villa hanya menorehkan 1 gol. Totalnya, hingga 15 Mei 2010, Villa bermain 49 kali, mencetak 22 gol dan 9 assist. Bandingkan dengan tahun lalu di Valencia kala ia hanya bermain 42 kali, mencetak 28 gol dan 10 assist.

 

Torres Buruk

Nasib Villa tidak semengenaskan Fernando Torres. Berbekal torehan gol fantastis selama tiga tahun awal di Liverpool, pada awal musim Torres hanya mencetak 9 gol dari 26 laga. Pada pertengahan musim, ia memutuskan hengkang dari kubu The Reds ke Chelsea dengan banderol £50 juta. Kepergian Torres dari Anfield dicaci tidak hanya oleh Liverpudlian, tetapi juga seluruh awak The Reds. Para pemain Liverpool menganggap Torres sebagai pengkhianat yang hanya mau mendapatkan gaji banyak. “Kutukan” kubu The Reds nyatanya terbukti dalam sisa musim 2010/2011. Ia hanya mencetak 1 gol dari 15 penampilan. Alhasil, Torres dianggap sebagai pembelian gagal Chelsea mengingat harga transfernya yang fantastis. Ia juga mulai dijuluki “The Next Shevcenko”. Beberapa musim lalu, Sheva dibeli Chelsea dengan harga selangit, tapi gagal total beradaptasi di Stamford Bridge; berubah dari seorang striker haus gol menjadi penyerang mandul.

 

Tumpulnya Torres dan melempemnya Villa di klub masing-masing bisa menjadi sinyal buruk bagi timnas mereka, Spanyol. Apakah kegagalan mereka akan berlanjut di timnas? Ujicoba melawan Amerika Serikat pada 4 Juni 2011 dan Venezuela 3 hari kemudian akan menjadi pembuktian bagi keduanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda