Scroll to Top

Kandungan Fruktosa pada Makanan Bisa Menjadi Biang Obesitas

By Ilham Choirul / Published on Tuesday, 08 Jan 2013

fruktosa

Banyak produk instan yang beredar saat ini memakai fruktosa sebagai pengganti gula meja atau sukrosa. Frukosa memang memiliki tingkat manis yang lebih tinggi dibanding sukrosa. Dalam seporsi fruktosa, mengandung 55 persen fruktosa dan 45 perse glukosa. Sebaliknya dalam seporsi sukrosa, perbandingan perbandingan fruktosa dan glukosa sama, masing-masing 50 persen. Kabar kurang baiknya, fruktosa dianggap sebagai biang dari terjadinya obesitas karena ketidakmampuannya untuk menekan rasa lapar.

Hal ini terungkap dalam sebuah studi yang dimuat Journal of American Medical Association (JAMA) yang terbit 2 Januari 2013 lalu. Peneliti menemukan, sekali pun fruktosa dan sukrosa memberikan jumlah kalori yang sama, tetapi keduanya memberikan efek berbeda dalam mempengaruhi kerja otak. Orang yang mengonsumsi fruktosa lebih banyak terdorong untuk makan berlebihan dibanding jika mengonsumsi sukrosa.

Dalam pengamatan terhadap scan otak melalui alat MRI terhadap 20 relawan remaja, ada hasil berbeda ketika mereka diberikan fruktosa dan sukrosa. Pada remaja yang diberikan glukosa selama beberapa minggu, ada area di otak mereka yang memerintahkan untuk mematikan atau menekan keinginan untuk terus makan. Sehingga, kegemukan bisa dicegah.

Sebaliknya untuk remaja yang mengonsumsi fruktosa, ”Kami tidak melihat perubahan tersebut. Akibatnya, keinginan untuk makan (terjadi) terus menerus dan tidak dimatikan (oleh otak),” kata Dr Robert Sherwin, kepala endokrinologi pada Yale University School of Medicine di New Haven, Conn, seperti dikutip CBS News.

Dalam studi ini, peneliti melihat perubahan kerja yang terjadi pada hipotalamus, insula, dan striatum. Di ketiga daerah otak tersebut tempat untuk mengatur nafsu makan, motivasi, dan apresiasi, hingga tempat untuk meningkatkan koneksi di jalur otak tertentu terkait dengan rasa kenyang.

Pemanis fruktosa kerap dipakai untuk salah satu bahan dalam makanan dan minuman olahan. Keberadaannya mulai digemari industri sejak tahun 1970-an. Makanan dan minuman mengandung pemanis fruktosa memberikan jumlah kalori yang sama dengan sukrosa, tapi tidak lantas membuat pengonsumsinya merasa kenyang. Jadi, pilah-pilih pemanis dalam makanan atau minuman yang Anda beli dan lihat kandungan bahan pada label kemasannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda