Scroll to Top

Frank Zamboni, Pencipta Mesin Pembersih Salju

By Naqib Najah / Published on Wednesday, 16 Jan 2013

frank zamboni

Apa kaitannya musim salju dengan Frank Zamboni? Ia tidak lain adalah lelaki jenius yang memperingan kerja manusia lewat mesin pembersih salju yang ia ciptakan.

Apakah Anda sering mengamati gerak lincah para pemain sepatu es di tengah gunungan salju? Jangan terkesima terlebih dahulu dengan kepiawaian mereka meliuk-liuk di atas tumpukan salju, sebab ada sosok jenius yang membuat atlet seperti Michelle Kwan bisa bermain dengan begitu lincah. Ia adalah Frank Zamboni, penemu Zamboni Ice Resurfacer, mesin yang berfungsi meratakan permukaan salju.

Sebelum mesin itu lahir, arena olahraga es selalu menyibukkan para petugas kebersihan yang secara manual menyemprot dan menyapu es. Mereka melakukan hal demikian untuk membersihkan serpihan salju bekas sepatu salju para atlet. Untuk mempercepat pekerjaan ini, mereka membutuhkan tiga sampai lima orang untuk menyelesaikannya. Toh hasilnya, para petugas masih butuh waktu setengah jam untuk menyelesaikannya. Sebuah pekerjaan yang menguras waktu bukan?

Namun tenanglah, sebab pada tahun 1942 muncul laki-laki tidak terpelajar yang merombak sebuah jeep menjadi alat pembersih permukaan es. Frank Zamboni ingin mempermudah para petugas kebersihan lewat temuannya. Ia menguji coba temuannya itu selama tujuh tahun, hingga pada tahun 1950, Sonja Henie yang merupakan atlet sepatu es terkenal mempromosikan alat tersebut secara lebih luas.

Pada tahun 1950, Sonja Henie yang meraih medali emas dalam Olimpiade 1928, 1932, 1936 menginginkan satu mesin buatan Zamboni untuk dibawa ke dalam turnya.

Frank Zamboni memang bukan pria beruntung yang bisa mengenyam pendidikan dengan bagus. Pada usia 15 tahun, dia ditarik keluar dari kelas sembilan untuk membantu ayahnya di lahan pertanian milik keluarga. Tak berselang lama, Frankdan saudara-saudaranya pindah ke Los Angeles, California. Nasib Frank muda masih kurang beruntung, sebab  Frank dan adiknya, Lawrence Eugeneharus bekerja di sebuah garasi mobil.

Setahun setelah mengumpulkan uang, barulah ia bisa mengenyam pendidikan di Sekolah Dagang Coyne, Chichago.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda