Scroll to Top

Cara Memakai Sarung Ala Wanita Bima

By Ilham Choirul / Published on Wednesday, 23 Jan 2013

rimpu

Di Bima, kain sarung tidak didominasi pria dalam penggunaannya. Baik pria  maupun wanita, mereka cukup antusias mengenakan sarung sebagai bagian dari tradisi yang ada. Khusus para wanita, sarung dipakai hingga memenuhi seluruh tubuh. Banyak pula yang memakainya hingga menyerupai wanita bercadar.

Ternyata, adat memakai sarung seperti ini bagi wanita Bima merupakan bentuk ketaatan terhadap perintah agama. Salah satu daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat itu cukup banyak yang menganut agama Islam. Memakai sarung hingga menutupi seluruh bagian tubuh, bahkan sampai muka, menjadi perwujudan perintah untuk berjilbab.

Masyarakat di sana menyebut berpakaian sarung untuk wanita dengan nama rimpu. Sarung, disebut juga ndo’o, digunakan sebanyak dua potong. Satu potong menutupi setengah tubuh bagian bawah, dan potongan lainnya untuk menutup tubuh bagian atas. Bahkan, masyarakat Bima tidak lantas menganggap remeh dan aneh pada wanita yang memilih menutup sarungnya hingga meyerupai cadar.

Kain sarung bagi masyarakat Bima punya nilai tersendiri. Jenisnya pun berbeda antara yang dipakai untuk dipakai pada kegiatan resmi dengan keperluan harian. Masyarakat juga lebih suka tidur berselimut sarung dibanding memakai kain selimut pada umumnya. Bahan utama sarung di sana yaitu benang kapan yang ditenun sampai lembut. Motif sarung khas Bima dinamai tembe nggoli.

Sementara pada pria, berpakaian dengan sarung dinamakan katente. Cara memakainya seperti umumnya mengenakan sarung, yaitu menutupi separuh tubuh bawah dengan melilitkannya di bagian perut agar terikat kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda