Scroll to Top

Irfan Bachdim “Takut” Kopassus

By Fitra Firdaus / Published on Friday, 20 May 2011

 

 

Siapa yang tidak mengenal sosok Irfan Harrys Bachdim? Pemuda tampan yang namanya mencuat setelah ikut membela Timnas Indonesia dalam AFF Cup 2010 ini dikenal sebagai striker lincah dengan teknik mumpuni. Berkostum Persema Malang, Irfan telah mencetak sekian gol untuk membawa Persema bercokol di singgasana sementara Liga Primer Indonesia, liga yang sempat diributkan oleh rezim PSSI Nurdin Halid. Ketangguhan Irfan di lapangan ternyata hampir “berbanding terbalik” dengan ketangguhannya di luar lapangan. Setidaknya, Irfan sempat dibuat “ngeri” di depan Kopassus. Nah, mengapa Irfan mesti berhadapan dengan pasukan khusus negara kita ini?

 

Irfan yang bergabung dengan pemain seleksi Timnas U-23 untuk menghadapi Sea Games 2011, ternyata mesti mengikuti training empat belas hari di  Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Passus) Batujajar, Jawa Barat. Bersama rekan lain seperti Kim Jeffrey Kurniawan, Kurnia Meiga, dan Oktavianus “Okto” Maniani, seharusnya Irfan “digojlok” mental dan fisiknya selama 14 hari penuh. Sayang, Irfan sempat “melarikan diri” dari kamp latihan sebelum genap menyelesaikan masa trainingnya.

 

Sebenarnya, Irfan tidak semata-mata kabur. Ia telah meminta izin terlebih dahulu kepada  Letkol Richard Tampubolon, komandan latihan Prima (Program Indonesia Emas) di Pusat Pendidikan Passus Batujajar bahwa ia akan pergi ke pertandingan Persebaya 1927 melawan Persema, tim yang diperkuatnya selama ini dalam lanjutan LPI. Sayangnya, kehadiran Irfan di pertandingan yang pada akhirnya dimenangi Persebaya 1927 dengan skor 4-0 ini dipertanyakan. Pasalnya, dalam pertandingan sebelumnya, Irfan mendapatkan kartu merah sehingga tidak bisa memperkuat timnya dalam Derby Jatim kali ini. Maka, untuk apa Irfan datang ke Surabaya jika ia tidak bermain? Adakah alasan lain yang lebih logis?

 

Konon, Irfan tidak betah dengan lingkungan militer yang mesti dihuninya nyaris selama setengah bulan. Bagi Irfan, berada dalam kesatuan militer, meski hanya training biasa, adalah pengalaman baru. Tentu, disiplin yang diterapkan Kopassus berbeda dengan disiplin dalam sepakbola. Irfan yang banyak diidolakan remaja Indonesia sendiri mengaku tidak betah pada hari pertama sehingga mesti meninggalkan kamp.

 

Beruntunglah, setelah berpikir ulang, Irfan kembali ke kamp dan menjalani sisa masa training. Bahkan, Irfan, bersama “adik iparnya”, Kim Jeffrey Kurniawan, diberi kesempatan untuk mengibarkan bendera dalam penutupan training. Total, dari 14 hari masa training, Irfan cuma masuk 4 hari. Hmmm, apakah Irfan sempat trauma dengan “kerasnya” tekanan mental ala Kopassus? Barangkali, tekanan tersebut lebih “mengerikan” daripada tackle bek-bek lawan Persema.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda