Scroll to Top

Hari Kartini 21 April 2013: Harinya Perempuan Indonesia

By Aditya / Published on Sunday, 21 Apr 2013

Tanggal 21 April ini, rakyat Indonesia, khususnya kaum perempuan, memperingati Hari Kartini 2013. Hari Kartini memang ditetapkan sebagai hari besar nasional sejak era pemerintahan Presiden Soekarno untuk menghormati jasa dan perjuangan yang telah dilakukan Raden Ajeng Kartini untuk kemajuan perempuan Indonesia.

Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879. Ia berasal dari keluaga ningrat Jawa. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, adalah Bupati Jepara, yang masih memiliki garis keturunan dengan keluarga besar Kasultanan Yogyakarta, tepatnya dari trah Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877).

Kartini mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (ELS), sekolah bagi anak-anak Belanda dan pribumi dari kalangan bangsawan. Tak hanya mahir berbahasa Belanda, Kartini juga gemar membaca surat kabar, majalah, dan buku-buku terbitan Belanda. Selain itu, Kartini juga menjalin korespondensi dengan teman-temannya di Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon, istri JH Abendanon yang kelak menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda pada periode 1900-1905.

Dari situlah Kartini mulai mengenal emansipasi wanita yang saat itu marak diperjuangkan di Eropa. Masih rendahnya status sosial perempuan di Indonesia (waktu itu bernama Hindia Belanda), membuat Kartini tergugah untuk memperjuangkan nasib mereka.

Setelah menikah dengan KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang, pada 12 November 1903, Kartini menggagas sekolah perempuan pribumi. Sang suami ternyata sangat mendukung keinginan itu dan memberikan fasilitas kepada Kartini untuk mendirikan sekolah perempuan di kompleks kantor Bupati Rembang. Sayangnya, Kartini terlalu cepat meninggalkan dunia ini. Beberapa hari setelah melahirkan anak satu-satunya yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat, Kartini wafat pada tanggal 17 September 1904 di Rembang, Jawa Tengah, dalam usia 25 tahun.

JH Abendanon yang tidak ingin perjuangan Kartini sia-sia, mengumpulkan surat-surat Kartini yang pernah dikirimkan kepada istrinya, Rosa Abendanon. Tahun 1911, buku kumpulan surat tersebut diterbitkan dengan judul ”Door Duisternis tot Licht” atau “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku inilah yang pada tahun 1922 diterbitkan ulang oleh Balai Pustaka dengan judul ”Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Sebenarnya, bukan hanya Kartini seorang, masih banyak sosok lainnya yang juga pantas menjadi insiprasi bagi perempuan Indonesia, sebutlah Cut Nyak Dhien (Aceh), Roehanna Koedoes (Sumatera Barat), Dewi Sartika (Jawa Barat), We Tenri Olle (Sulawesi Selatan), Martha Christina Tiahahu (Maluku), hingga Herawati Dyah (Belitung). Tapi, setidaknya Hari Kartini 2013 dapat dijadikan momen di mana perempuan Indonesia harus mampu berdiri sejajar dan turut berperan bagi kemajuan bangsa dan negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda