Scroll to Top

Dituduh Terlalu Istimewakan ‘Iron Man 3′, Pihak 21 Buka Suara Soal ‘Kerasukan’

By Arya Azhar / Published on Monday, 29 Apr 2013

Polemik antara produser film horor “KerasukanFirman Bintang dan Pihak Bioskop 21 terus bergulir.

Firman Bintang sebelumnya menginstruksikan pihak bioskop 21 untuk segera menarik peredaran film “Kerasukan” dari layar bioskop 21 seluruh Indonesia. Ia merasa diperlakukan tidak adil akibat 21 terlalu mengistimewakan film Iron Man 3 yang diberikan porsi hingga 400 layar, dan menyisihkan film produksinya “Kerasukan“.

Menanggapi tuduhan tersebut, pihak 21 pun langsung buka suara. PIhak 21 yang diwakilkan oleh Catherine Keng (Corporate Secretary Cinema 21) membantah semua tuduhan yang dialamatkan oleh Firman Bintang kepada Pihak jaringan bioskop terbesar di Indonesia tersebut.

Melalui situs resmi 21Cineplex, Catherine memberikan 9 Poin pembantahannya sebagai berikut :

1. Bahwa penarikan film Kerasukan pada hari Sabtu tanggal 27 Aprill 2013 adalah sepenuhnya atas permintaan pihak produser sendiri tanpa didahului pembicaraan dengan pihak kami terlebih dahulu.

2. Bahwa film “Iron Man 3″ sejak jauh hari sebelumnya telah dijadwalkan release pada Kamis, tanggal 25 April 2013. Tidak ada perubahan atau pemajuan jadwal release film tersebut seperti yang dituduhkan. Jadwal release tersebut telah diketahui oleh para produser dan importir film lain yang berkepentingan.

3. Bahwa tanggal release film “Kerasukan” pada tanggal 25 April 2013 merupakan tanggal yang ditetapkan dan disepakati oleh pihak produser film yang bersangkutan dengan sejumlah pertimbangannya sendiri. Jumlah layar yang disediakan untuk film “Kerasukan” juga merupakan hasil kesepakatan dengan pihak produser yang bersangkutan.

4. Bahwa keputusan pengalokasian jumlah layar untuk film “Iron Man 3″ dilakukan untuk memberikan kemudahan atas besarnya animo masyarakat yang akan menonton film tersebut, TANPA sedikit pun mengorbankan jumlah layar yang disediakan untuk film “Kerasukan”.

5. Sebagai bioskop yang berfungsi melayani kebutuhan hiburan masyarakat, Cinema 21 senantiasa memberikan alokasi jumlah layar yang memadai kepada film yang diminati oleh masyarakat dengan tujuan untuk memudahkan masyarakat menonton film tersebut. Dalam hal ini Cinema 21 tidak pernah membedakan antara film impor maupun film produksi dalam negeri. Kebijakan ini berlaku umum tanpa diskriminasi. Terbukti telah berulang kali Cinema 21 memberikan alokasi layar yang besar kepada film produksi dalam negeri yang diminati masyarakat, misalnya film Ayat Ayat CintaHabibie & Ainun (keduanya karya produser yang sama dengan film Kerasukan), Laskar Pelangi, 5cm dan banyak judul lainnya.

6. Cinema 21 menyadari bahwa masyarakat luas, khususnya PENONTON Bioskop, merupakan penentu utama dan terakhir dalam keberhasilan komersial suatu film. Bioskop sebagai etalase film, baik produksi dalam negeri maupun impor, tidak bisa dan tidak akan pernah bisa mendikte atau mengarahkan minat penonton terhadap suatu judul film tertentu. Oleh karenanya, bioskop akan senantiasa memihak kepada kepentingan Masyarakat Penonton yang sekaligus merupakan darah yang menghidupi industri perfilman dimanapun di seluruh dunia.

7. Cinema 21 berkomitmen penuh mendukung film produksi dalam negeri tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat penonton, kami berharap hal tersebut dilakukan secara terukur dan bijaksana sehingga tidak berakibat kontra produktif terhadap tujuan perfilman itu sendiri. Semua stakeholder perfilman harus senantiasa memupuk minat masyarakat untuk menonton film, karena pada akhirnya penonton akan menjadi modal utama bagi perkembangan perfilman nasional itu sendiri secara keseluruhan.

8. Semoga penjelasan diatas dapat menjawab semua pertanyaan dan tuduhan yang ditujukan kepada kami sebagai pengelola Cinema 21. Kami berharap penjelasan ini dapat mendudukkan permasalahan secara proporsional sehingga dapat dipahami oleh masyarakat secara jernih dan objektif.

9. Cinema 21 selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dalam melayani masyarakat Indonesia dengan menghadirkan hiburan film yang berkualitas dan diminati masyarakat penonton.

Kontroversi di masyarakatpun langsung bergulir. Dari linimasa Twitter misalnya, banyak yang mendukung langkah Firman Bintang tersebut sebagai usaha untuk memberikan sedikit “tamparan” kepada Pihak 21 agar tidak menganaktirikan film lokal dan terlalu mendewakan film asing.

Namun tak sedikit pula yang memberikan komentar negatif dengan mengira usaha Firman Bintang tersebut hanya kamuflase belaka agar filmnya diperbincangkan di publik dan saat dirilis ulang nanti menuai sukses besar.

Bagaimana menurut Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda