Scroll to Top

Soren Kierkegaard Sang Bapak Filsafat Eksistensialisme

By Fitra Firdaus / Published on Sunday, 05 May 2013

kierkegaard

Soren Kierkegaard filsuf, penyair, teolog, dan pengarang, lahir pada 5 Mei 1813 atau tepat 200 tahun lalu. Ia dianggap sebagai filsuf eksistentialis pertama, sehingga dilabeli ‘Bapak Eksistensialisme’. Kehidupannya demikian tragis, kehilangan banyak orang yang dicintai sejak belia. Bahkan ia tak menikah meski saling jatuh cinta dengan Regina Olsen.

Kehidupan masa kecil Soren Kierkegaard dapat dikatakan kelam. Ayahnya yakin keluarganya dilanda kutukan: semu anak Michael Pedersen Kierkegaard konon akan meninggal sebelum ayah mereka berpulang. ‘Kutukan’ ini terbukti pada lima dari tujuh anaknya. Beruntung, Soren dan sang kakak Peter Christian tidak demikian. Peter kemudian menjadi seorang uskup, dan Soren menjalani hidup yang tak kalah pedih.

Di balik kehebatan seseorang senantiasa ada titik rapuh. Itu pula yang berlaku pada Soren Kierkegaard. Titik penting dari karya-karya emasnya, adalah pertunangan yang kandas dengan Regine Olsen. Orang mungkin tak akan percaya apa yang terjadi. Keduanya saling jatuh cinta, tapi Kierkegaard kemudian menyadari sifat melankolisnya tak cocok untuk pernikahan.

Batallah pertunangan yang sudah berlangsung setahun. Regine Olsen menikah dengan orang lain. Ada yang menyatakan, cinta Kierkegaard yang demikian terpendam untuk sang pujaan hati, membuatnya rela meminta izin suami Regine untuk sekadar bersua. Hal yang tentu ditolak.

Duka oleh takdirnya dengan Regine tak menutup kejeniusan Kierkegaard. Ia melahirkan banyak karya terkemuka. Seperti Journals yang ditulisnya sejak berusia 20 tahun. Beberapa karyanya yang lain adalah Enten/Eller (1843), Frygt og Baeven (1844), Philosophiske Smuler (1844) dan Afsluttende uvidenskabelig Efterskrift (1845). Kierkegaard juga seorang pengkrtik Gereja yang jitu. Ia menjelaskan bahwa Gereja kala itu sudah beralih fungsi tidak menyampaikan Injil Kristus dan mempermainkan Tuhan.

Kierkegaard meninggal di Frederik’s Hospital pada 11 November 1855, lima mingu setelah ia terjatuh tak sadarkan diri. Karya-karyanya sendiri, telah menginspirasi banyak tokoh di kemudian hari. Salah satu kata mutiara darinya adalah, “Hidup bukanlah masalah yang harus diatasi, tapi kenyataan yang harus dialami.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda