Scroll to Top

Seri Nostalgia Serie-A: Lazio, Juara Tidak Masuk Akal Liga Italia 1999/2000

By Fitra Firdaus / Published on Wednesday, 07 Sep 2011

Sebentar lagi, Serie-A kembali bergulir setelah sempat tertunda karena “konflik” Persatuan Pemain Italia (AIC) dan pengelola Lega Calcio. AC Milan sang juara bertahan, Internazionale yang pernah menjuarai liga lima kali berturut-turut, AS Roma, dan Juventus yang membelanjakan begitu banyak uang pada bursa transfer musim panas, layak dijadikan unggulan.

Tak ada salahnya jika kita bernostalgia sedikit tentang salah satu kompetisi terbaik di dunia ini. Tepatnya pada musim 1999/2000. Kala itu, tim sekota AS Roma, SS Lazio, berhasil menjadi juara liga dengan cara yang tak masuk akal. Bagaimana tidak? Hingga pekan 33, sepekan sebelum pekan terakhir, Lazio masih tertinggal dua angka dari Juventus. Namun, di pekan 34 (saat itu Serie-A hanya terdiri dari 18 klub),  secara ajaib Lazio menyalip Juventus.

Musim 1999/2000 boleh dikatakan merupakan arena balas dendam Lazio. Musim sebelumnya, mereka gagal menjadi juara karena diserobot oleh AC Milan dalam beberapa pertandingan terakhir. Tak ingin mengulangi kegagalan, Sergio Cragnotti, presiden Lazio saat itu, membeli banyak pemain. Termasuk, Juan Sebastian Veron dari AC Parma dan Simone Inzaghi dari Piacenza.

Setelah awal musim yang cukup gemilang, pada pertengahan liga, Lazio mulai tercecer. Mereka sempat tertinggal 9 angka dari Juventus. Namun, dengan gemilang, Biancocelesti bisa memangkas jarak demi jarak.

Petaka bagi Biancocelesti datang pada pekan 33. Dalam pertandingan Juventus menghadapi Parma, gol Fabio Cannavaro (saat itu menjadi kapten Parma) dianulir sehingga pertandingan berakhir 1-0 untuk kemenangan Juventus. Padahal, seandainya gol murni itu disahkan, Lazio dan Juventus akan memiliki poin yang sama.

Protes pun mengemuka. Laziale, suporter Lazio, mengklaim bahwa terjadi skandal pengaturan skor yang menguntungkan Juventus. Maka, pada pertandingan terakhir klub mereka yang kebetulan digelar di Olimpico, Laziale mengusung peti mati demi menunjukkan bahwa (sportivitas) sepakbola Italia sudah mati. Sebelumnya, demonstrasi besar-besaran Laziale di jalan-jalan sempat menyebabkan bentrok dengan polisi. Laziale selalu menyerukan “play-off (Lazio dan Juventus bertanding lagi) atau perang”.

Pada pertandingan terakhir, Lazio sukses membekap Reggina 3-0. Pertandingan sempat terhenti menjelang babak kedua karena di saat bersamaan, hujan turun mengguyur pertandingan Perugia melawan Juventus. Wasit menginginkan, pertandingan berjalan serentak sehingga tidak ada upaya pengaturan skor atau permainan dari pihak mana pun. Namun, nyatanya, Lazio tetap memainkan 45 menit sisa lebih dahulu daripada Juventus.

Sementara itu, Juventus yang melawat ke kandang Perugia, seperti terkena “kutukan” atas kemenangan “atas campur tangan wasit” pada pekan sebelumnya. Setelah hujan deras mengguyur lapangan, Bianconeri mesti bermain di lapangan yang becek. Ajaib, sebuah gol lahir dari kepala bek Perugia, Calori pada menit 49. Gol ini bertahan hingga penghujung pertandingan. Alhasil, Laziolah yang menjadi juara Liga Italia karena poin mereka bertambah tiga menjadi 72. Sementara itu, Juventus mentok di angka 71.

Gelar juara Liga Italia ini menjadi gelar kedua Lazio sepanjang masa sekaligus kado paling istimewa atas ulang tahun ke-100 mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda