Scroll to Top

Callum McManaman: Berlian Sepakbola Inggris Yang Belum Terasah

By Wan Faizal / Published on Sunday, 12 May 2013
Watson-McManaman
Ben Watson-McManaman

Jika Anda menyaksikan penuh partai Final FA Cup 2013 yang mempertemukan Manchester City vs Wigan Athletic, Anda tentu setuju dengan terpilihnya Callum McManaman sebagai pemain terbaik. Meski tak mencetak gol, kontribusi McManaman sudah lebih dari cukup untuk membuat Wigan menjadi juara. Manajer Roberto Martinez bahkan menyebut pemainnya itu sebagai berlian yang belum terasah di sepakbola Inggris.

Di awal musim ini pun, publik mungkin belum kenal dengan nama pemuda berusia 22 tahun tersebut. Maklum saja, Martinez saat itu belum memberinya kepercayaan lebih. Namun ketika mendapat kesempatan, McManaman tak menyia-nyiakannya dan langsung menjadi pilihan utama di lini depan, “membuang” seorang Franco Di Santo ke bangku cadangan.

Gaya mainnya yang eksplosif, punya kecepatan lari luar biasa, dribbling yang oke, serta stamina yang prima membantu McManaman menjadi momok menakutkan bagi pertahanan lawan. Dan itu semua terlihat jelas di Stadion Wembley kemarin.

Berulang kali McManaman membuat Gael Clichy terlihat seperti pemain amatir. Andai tak sial, McManaman seharusnya bisa mencetak dua gol di babak pertama. Pablo Zabaleta bahkan harus melanggarnya dengan keras demi menghentikan laju lari McManaman meski harus berbuah kartu kuning kedua bagi pemain asal Argentina tersebut. Masih kurang? Gol Ben Watson di masa injury time yang tercipta dari situasi corner kick, juga berkat andil McManaman saat Clichy membuang bola yang dikuasai pemain Wigan itu dan berbuah sepak pojok.

McManaman-Nastasic

Bagi Martinez, apa yang ditunjukkan McManaman adalah sesuatu yang brilian. Ia menyebut anak asuhnya itu sebagai berlian bagi sepakbola Inggris.

“Dalam sepakbola, aksi di lapangan lebih berperan besar daripada omongan. Dan Callum menunjukkannya di laga sepenting itu. Ia adalah berlian bagi sepakbola Inggris!” jelas Martinez.

“Callum benar-benar tak peduli ia memakai sepatu sepakbola apa. Ia juga tak peduli dengan mobil apa yang ia kendarai. Tapi, cukup beri dia sepakbola, dan dia akan merasa senang.”

Bisa dibilang, McManaman sudah berubah dari pecundang menjadi pahlawan. Maklum saja, sekitar dua bulan lalu ia dicerca publik Inggris lantaran tekel kerasnya pada Massadio Haidara, bek Newcastle United. Haidara beruntung kakinya tak patah karena terjangan keras McManaman.

McManaman-Haidara
McManaman-Haidara

Tentang laga final kemarin, McManaman mengaku bahwa ia mendapat firasat bahwa itu akan menjadi harinya Wigan. Dan itu semua terbukti di lapangan. Tak hanya jadi harinya Wigan, namun pertandingan itu juga mutlak menjadi ajang pembuktiannya.

“Saya sudah punya firasat kalau pertandingan itu akan jadi milik kami. Manajer berkata itu sama saja seperti pertandingan lain. Kami tak perlu takut. Dan itu lah yang terjadi. Saya tak percaya dengan penampilan saya musim ini. Semua orang di klub telah banyak membantu saya.”

Dibalik seseorang yang sukses, pasti ada pihak lain yang merasa menyesal. Dan kata penyesalan itu pantas ditujukan pada Everton yang sudah membuang McManaman dari tim muda mereka saat berusia 16 tahun. Andai saat itu McManaman masih di Everton, mungkin The Toffees dan David Moyes lah yang akan mendapat “berlian yang belum terasah” tersebut. Well, dan yang terakhir, rasanya akan ada banyak klub besar yang akan mengantre tanda tangan McManaman setelah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda