Scroll to Top

Ubuntu Ingin Mengadopsi Sistem Rilis Per Bulan

By Ivan Azzam / Published on Saturday, 10 Sep 2011

Anggota jajaran direksi teknis Ubuntu, Scott James Remnant mengajukan proposal perilisan Ubuntu agar menjadi model rolling release, dimana versi stabil hadir setiap bulan. Dia telah menerbitkannya di blog agar bisa dibahas bersama.

Ubuntu saat ini mengadopsi waktu perilisan dengan waktu 6 bulan per distribusi. Versi baru dirilis pada April dan Oktober tiap tahunnya. Rilis Ubuntu memiliki dukungan waktu selama 18 bulan, kecuali LTS (Long Term Support) yang mendapat dukungan selama tiga tahun untuk versi desktop dan lima tahun untuk server.

Model rilis seperti ini diadopsi agar Ubuntu bisa memprediksi pengguna dan OEM (original equipment manufacturer). Ini juga sebagai respon dari lamanya waktu rilis dari “orang tua” Ubuntu, yaitu Debian.

Tapi seperti yang diketahui, kebijakan perilisan Ubuntu ini juga memiliki masalah, misalkan ada komponen software yang belum versi final tapi dipaksa masuk ke rilis. Selain itu, aplikasi yang sudah terbukti stabil dihapus di rilis selanjutnya dan diganti dengan aplikasi yang masih “setengah matang”, ini mengakibatkan pandangan negatif bahwa banyak fitur baru yang terlihat menjanjikan, namun dipaksa untuk rilis sebelum fitur tersebut benar-benar siap.

Model perilisan yang diajukan ini mirip dengan model rilis Chrome dan Firefox. Akan ada rilis alpha, beta, dan release. Versi alpha untuk developer/pengembang, beta untuk user testing, dan release untuk versi stabil.

Selain itu, masalah yang muncul, rilis per bulan semacam ini menyulitkan software yang berada di luar lingkungan Ubuntu untuk tetap kompatibel. Misalkan ada pengguna yang ingin menjalankan tiga atau empat rilis, termasuk rilis alpha dan beta, apakah pengembang pihak ketiga harus menguji dan memberi paket aplikasi yang berbeda di masing-masing rilis?

Masih menjadi perdebatan, apakah model rilis per bulan semacam ini benar-benar bisa mengatasi keburukan rilis per enam bulan ala Ubuntu selama ini. Bagaimana ke depannya, mari kita tunggu saja. (via Ars Technica)

Tagged as:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda