Scroll to Top

Maradona Datang Bukan untuk Rakyat Indonesia?

By Aditya / Published on Saturday, 15 Jun 2013

Maradona Argentina

Megabintang sepakbola dunia, Diego Armando Maradona, dijadwalkan menyambangi Indonesia pada 18 Juni hingga 22 Juni 2013 mendatang. Namun, untuk bisa berbaur atau bahkan sekadar melihat aksi sang legenda, dibutuhkan uang yang boleh dibilang tidak sedikit. Maradona didatangkan ke Indonesia seolah-olah bukan untuk konsumsi publik, bukan untuk rakyat biasa, melainkan untuk mereka yang berduit.

Maradona diagendakan akan beraksi di 4 kota besar di Indonesia, yakni di Jakarta, Medan, Surabaya, dan Makassar. Di keempat kota itu pencetak gol tangan Tuhan bagi Argentina tersebut akan melakoni berbagai kegiatan seperti seminar, coaching clinic, tango football, jumpa penggemar dalam gala dinner, dan lainnya. Namun, tarif untuk bisa mengikuti acara bersama Maradona dibanderol cukup mahal.

Bayangkan saja, di Jakarta misalnya, tarif untuk mengikuti seminar bersama Maradona dipatok 5 juta rupiah per orang, coaching clinic dibanderol 2 juta rupiah, dan tango football  sebesar 250 ribu rupiah. Yang paling mahal adalah untuk acara gala dinner yang dipatok tarif sebesar 10 juta rupiah tiap orang.

Ditambah lagi, Maradona tidak akan menggelar laga persahabatan di Indonesia sehingga semua rakyat Indonesia bisa menyaksikan aksi sang mahabintang. Meskipun sudah berumur, sebenarnya bisa saja Maradona mengadakan laga hiburan seperti yang pernah dilakukan oleh beberapa mantan pesepakbola top dunia ketika berkunjung ke Indonesia, seperti Edgar Davids, Marco Materazzi, Djalminha, atau deretan bintang kawakan AC Milan yang tergabung dalam Milan Glorie.

Padahal, Badan Sepakbola Rakyat Indonesia (Basri) melalui ketuanya, Eddy Sofyan, selaku pihak yang mendatangkan Maradona sebelumnya mengatakan bahwa kehadiran Maradona diharapkan bisa memberikan inspirasi bagi sepakbola di Indonesia.

“Kehadiran Maradona diharapkan memicu dan memberikan inspirasi bagi sepakbola di Indonesia lebih tinggi lagi. Pada akhirnya akan menjadi motivasi, harapan, dan cita-cita dalam meraih prestasi dan prestise untuk menjadi negara maju dalam sepakbola,” kata Eddy Sofyan.

Bagaimana mungkin hal itu terwujud sementara hanya orang-orang berduit saja yang berkesempatan untuk menimba ilmu kepada Maradona? Ini tentunya ironis mengingat kebanyakan pesepakbola dari beberapa negara di dunia, misalnya Brasil dan Indonesia, berasal dari keluarga yang kurang mampu. Mereka inilah sosok-sosok yang benar-benar berkeinginan kuat untuk menjadi pesepakbola sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda