Scroll to Top

Indonesia Terancam Hukuman FIFA

By Fitra Firdaus / Published on Wednesday, 25 May 2011

Menyusul beberapa kejadian memalukan pada Kongres PSSI di Hotel Sultan pada 20 Mei 2011, kini Indonesia hanya bisa berpasrah menghadapi apa pun keputusan yang akan diambil FIFA pada Sidang exco FIFA pada 30 Mei mendatang. Dalam kongres PSSI kemarin, ketua Komite Normalisasi (KN), Agum Gumelar, terpaksa mengetuk palu untuk menutup kongres karena suasana sudah tidak kondusif. Sebenarnya, apa yang terjadi dalam Kongres tersebut? Bagaimana reaksi FIFA atas Kongres PSSI?

 

FIFA Dihina?

Agak ironis jika kita melihat kengototan Kelompok 78, kelompok yang mengusung George Toisutta (GT) dan Arifin Panigoro (AP) sebagai calon ketua PSSI. Mereka tidak hanya menempuh jalur-jalur yang semestinya (terakhir mengadu pada CAS dan gugatan mereka ditolak CAS). Kelompok ini bahkan “berani” menyudutkan FIFA.

Thierry Regennas, perwakilan FIFA yang datang langsung ke Kongres PSSI bukannya disambut baik, malah dicecar pertanyaan tentang alasan FIFA tidak mengizinkan George Toisutta dan Arifin Panigoro untuk maju sebagai calon ketua PSSI. Regennas yang didesak, akhirnya menyatakan bahwa GT dan AP tidak diperbolehkan ikut karena keduanya dianggap sebagai “simbol” LPI (Liga Primer Indonesia), yang apa pun kata orang, merupakan liga sempalan yang tidak dinaungi oleh PSSI. Beberapa oknum PSSI, Kelompok 78, tak puas dengan jawaban Regennas. Bahkan salah satu peserta kongres sempat mengeluarkan kata-kata tidak pantas untuk perwakilan FIFA tersebut.

Yang lebih menjengkelkan, Kelompok 78 yang konon ingin mendapatkan kepengurusan PSSI yang lebih bersih ini, juga menyatakan mosi tidak percaya kepada Komite Normalisasi (KN). Otomatis, FIFA sebagai badan pembentuk KN merasa dihina karena tujuan disiapkannya KN hanyalah untuk memfasilitasi Kongres PSSI dan memunculkan pengurus PSSI yang baru. Kelompok 78 barangkali menganggap diri sebagai kelompok terpenting yang mesti dilibatkan dalam segala hal (atau setidaknya “diberi ucapan permisi”) oleh Komite Normalisasi. Kelompok 78 sendiri menganggap KN, terutama Agum Gumelar, tidak memuaskan.

 

FIFA Kecewa

Sementara itu, dua perwakilan FIFA, Therry Regennas dan Frank van Hattum, plus dua perwakilan AFC, Alex Assosay dan James Christhopen Jansen, sudah ditemui Agum Gumelar. Mantan ketua PSSI ini tidak hanya meminta maaf, tetapi juga memohon agar sanksi FIFA tidak dijatuhkan. Mungkin saja, jika sanksi tersebut benar-benar diterapkan, Indonesia tidak boleh bermain dalam pertandingan internasional dalam jangka waktu tertentu. Sayangnya, perwakilan FIFA yang telah merasa diremehkan, tidak mau berkomentar banyak dan meminta warga Indonesia untuk menunggu keputusan FIFA 30 Mei mendatang.

 

Banyak Yang Terluka

Sejenak kita berpikir. Tidak hanya Indonesia (timnas) yang akan terkena getah ulah kelompok 78. Sriwijaya FC dan Persipura, dua tim yang telah lolos ke babak 16 besar AFF Cup 2011, bisa terancam keberadaannya. Mungkin saja mereka dilarang tampil di babak berikutnya seandainya masing-masing bisa menaklukkan Chonburi dan Song Lam Nghe An pada 25 Mei mendatang. Belum lagi jika dilihat, event terdekat SEA GAMES 2011. Apakah penduduk Indonesia rela, timnas tidak ambil bagian dalam salah satu cabang olahraga yang paling digemari di negeri ini, hanya karena oknum-oknum yang haus kekuasaan?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda