Romanisti pasti kecewa ketika musim 1999/2000 berakhir. Pembelian penyerang Vincenzo Montella dari Sampdoria untuk membentuk trio Francesco Totti-Marco Delvecchio-dan dirinya tidak menghasilkan gelar juara Serie-A. Roma bahkan mesti puas cuma duduk di peringkat keenam.

Namun, ada dua hal yang menghibur di balik kekecewaan itu. Setidaknya, Roma bisa membantai teman seibukota sekaligus musuh besar, Lazio 4-1 pada musim tersebut. Kemudian, setidaknya Lazio bisa membuktikan bahwa Serie-A tidak hanya didominasi klub-klub wilayah utara atau cuma AC Milan dan Juventus. Gelar kedua Lazio dalam 100 tahun membuat mereka kini menyamai pencapaian Si Serigala. Roma yang sudah puasa gelar belasan tahun mengincar juara Liga Italia musim 2000/2001 untuk menuntaskan dahaga plus menjauh dari Lazio.

Maka, didatangkanlah Gabriel Batistuta, penyerang andalan Fiorentina. Sebuah keputusan berani diambil baik Roma maupun Batigol. Sang striker bahkan sempat berjanji, tak akan merayakan gol jika Roma berhadapan dengan Fiorentina kelak.

Sebenarnya, dari segi pembelian, Roma kalah dari tetangga sebelah. Lazio membeli sekaligus Hernan Crespo dan Claudio Lopez untuk mempertajam rasa Argentina di kubu Si Biru Langit. Namun, perjalanan semusim membuktikan bahwa yang dibutuhkan adalah konsistensi dan kolektivitas tim. Nyatanya, Crespo sempat ngadat di awal musim dan Lopez cedera panjang.

Justru trio Totti-Batistuta-Montella tampil luar biasa meskipun sebelumnya ada “perang dingin” antara Montella dan Batigol. Maklum, keduanya sama-sama menginginkan nomor sembilan. Bahkan, Montella sempat merelakan posisinya sebagai pemain inti. Sebagai gantinya, Batigol merelakan nomor 9 menjadi milik sang senator kota Roma.

Roma tidak menemui banyak kesulitan untuk menjadi juara musim tersebut. Bahkan meski gelar juara ditentukan di pertandingan terakhir. Mereka tampil konsisten sepanjang musim dan mempertahankan posisi pertama sejak dini hingga akhir.

Saat itu, Roma, Juventus, dan Lazio sama-sama memiliki peluang juara. Seandainya Roma dan Juventus kalah sementara Lazio menang, Biancocelesti akan meraih gelar kedua berturut-turut. Seandainya Roma terdepak dan Juventus menang, kekecewaan Juventini musim sebelumnya akan terobati. Lalu, siapakah lawan Roma? Parma; salah satu kekuatan tangguh pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.

Namun, semua tekanan tidak berpengaruh pada Serigala. Mereka sukses menyikat Parma 3-1 dan membuat gelar juara Liga Italia sekali lagi jatuh ke klub ibukota.

Gelar juara ini juga menjadi tanda kekuatan Roma di Serie-A. Sejak saat itu, sepanjang dekade 2000-an Roma begitu sering duduk di posisi runner-up.