Scroll to Top

Twitter Non-Aktifkan Deck.ly, Pengguna TweetDeck Kecewa

By Aisyah Indarsari / Published on Monday, 19 Sep 2011

Sebagai langkah untuk memperluas jaringan dan eksistensinya di dunia sosial media, Twitter telah melakukan beberapa peningkatan kualitas situs dan juga ekspansi dengan melakukan pembelian beberapa situs atau jejaring sosial lain yang serupa.

Salah satunya adalah pembelian situs jejaring sosial TweetDeck yang dilakukannya bulan Mei 2011 yang lalu. Sebagai informasi bagi Anda, TweetDeck merupakan situs jejaring sosial serupa Twitter yang terkenal dengan aplikasi deck.ly nya.

Aplikasi deck.ly memungkinkan pengguna TweetDeck untuk memposting tweet lebih dari 140 karakter. Seperti kegunaan URL shortener yang sudah umum di Twitter, pada TweetDeck, tweet Anda tetap akan tertera 140 karakter. Akan tetapi, jika Anda berkenan untuk membaca kelanjutan tweet yang terputus tersebut, Anda akan diarahkan ke window baru untuk membaca kelanjutan tweet nya.

Nah, aplikasi ini ternyata tidak sejalan dengan idealisme Twitter, yang ingin tetap konsisten dengan tweet sejumlah maksimal 140 karakternya.

Alasan saat pertama kali Twitter menetapkan idealisme itu adalah, Twitter ingin mempermudah seseorang mengupdate statusnya dengan batasan jumlah karakter pengiriman SMS pada saat itu, yaitu yang berjumlah 140 karakter. Walaupun saat ini, hampir seluruh telepon seluler menawarkan fitur untuk mengirim SMS lebih dari jumlah karakter tersebut.

TweetDeck sebagai anak perusahaan Twitter, walaupun tidak di merger secara total, dan tetap diberi keleluasaan untuk tetap menjalankan situs jejaring sosial dan menjaga penggunanya, tetap harus tunduk dan patuh terhadap peraturan yang merupakan idealisme Twitter tersebut.

Berikut seperti yang disebutkan TweetDeck pada tweetnya:

Walaupun semakin berkurang keunikan yang dapat ditawarkan TweetDeck kepada penggunanya, dan tentu saja, belum terhitung bagaimana kecewanya pengguna setia TweetDeck yang mungkin keberatan dengan diberhentikannya aplikasi tersebut, akan tetapi hal ini akan dapat tetap memfokuskan para pengguna sosial media untuk tetap menjaga keunikan tweet dan tidak saling mencampuradukkan jejaring sosial yang ada.

Bagaimana menurut Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda