Scroll to Top

Facebook Ajarkan Anak Bebas Berpendapat

By Aisyah Indarsari / Published on Monday, 19 Sep 2011

Kebebasan anak untuk berpendapat dimuka umum terkadang tidak mendapat tempat oleh para dewasa disekitarnya. Akan tetapi ternyata, booming sosial media membuat mereka memiliki tempat untuk menyalurkan uneg-uneg mereka selama ini.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh John S. dan James L. Knight Foundation, diperoleh kesimpulan bahwa jejaring sosial yang ada saat ini, terutama Facebook yang memiliki pengguna terbesar, mampu mengajarkan anak untuk bebas berpendapat. Berikut seperti yang diberitakan AllFacebook.

Akan tetapi sayangnya, antusiasme anak (dalam hal ini para siswa) dalam kebebasan mengemukakan pendapatnya tidak diiringi dengan antusiasme yang sama oleh para pendidik alias guru mereka.

Selengkapnya hasil survey yang mereka lakukan pada 12.090 siswa SMA dan 900 guru di seluruh Amerika, adalah sebagai berikut:

–          Lebih dari ¾ populasi siswa menggunakan sosial media beberapa kali dalam seminggu untuk mendapatkan berita dan informasi.

–          Sebanyak 91% siswa yang menggunakan jejaring sosial setiap harinya untuk memperoleh berita dan informasi, setuju dengan pernyataan bahwa “setiap orang harus diberi kebebasan untuk mengekspresikan pendapat mereka, walaupun terkadang pendapat tersebut dirasa tidak populer”.

–          Akan tetapi, hanya 77% siswa yang tidak pernah menggunakan jejaring sosial, yang menyetujui pernyataan yang sama.

–          Sedangkan para guru lebih mengindikasikan bahwa keutamaan untuk memperoleh berita terbaru dari sosial media cenderung membahayakan (49%) dibandingkan membantu (39%) proses belajar mengajar siswanya.

Eric Newton, penasehat utama presiden Knight Foundation, menyampaikan opininya terhadap hasil studi mereka:

Ini adalah generasi pertama dalam sejarah dimana mereka bisa mengirim SMS, tweet dan menulis blog kepada dunia, dan ini adalah sebuah berita baik bahwa dukungan untuk kebebasan mereka melakukannya semakin berkembang. Akan tetapi kabar buruknya adalah antusiasme para guru hampir tidak sebesar antusiasme para siswa tentang sosial media atau tentang kebebasan mereka.

Nah, kalau Anda, ada di posisi mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda