Scroll to Top

Alasan Seseorang Bosan dengan Pekerjaannya

By Ilham Choirul / Published on Saturday, 27 Jul 2013

benci kerja

Fenomena “kutu loncat’ di antara para pekerja sudah dianggap hal biasa. Biasanya penyebab utama masalah ini adalah adanya tawaran yang lebih baik di tempat yang baru, atau pekerja tersebut mengalami kejenuhan luar biasa terhadap pekerjaan yang dilakoninya di tempat lama. Walhasil mereka tidak bekerja dengan hati karena adanya perasaan sebal dengan pekerjaan.

Dikutip dari Times of India, sebuah studi yang dilakukan Dale Carnegie Training mengungkap, hampir 75 persen pekerja sebenarnya tidak sepenuhnya merasa terlibat dalam menangani pekerjaan mereka.  Berdasarkan informasi dari situs LinkedIn, terungkap ada beberapa alasan para pekerja ini membenci tugas yang diserahkan kepadanya.

Alasan utama membenci pekerjaan adalah adanya rasa iri terhadap teman-teman mereka yang hengkang ke perusahaan lain. Dia melihat temannya mengalami pengalaman lebih baik di tempat baru. Terkait dengan iming-iming gaji dan fasilitas yang lebih baik, juga menjadi alasan bagi pekerja untuk memimpikan bisa bergabung dengan perusahaan sesuai keinginannya.

Alasan lain yang dikemukakan adalah pekerja merasa tidak dihargai oleh perusahaan tempatnya bekerja sekarang ini. Bisa jadi dia dibayar dengan gaji kurang layak padahal harus menanggung beban kerja yang berat. Kadang, tim kerja yang cenderung memilih unsur senioritas membuat sebagian pekerja merasa tidak diperlukan pendapatnya dalam usaha memajukan pekerjaan.

Kebencian terhadap pekerjaan tidak melulu soal besaran gaji. Pasalnya, seseorang bekerja juga memerlukan ruang untuk mengaktualisasi kemampuannya demi kebaikan perusahaan. Jika pekerja hanya berjalan di tempat selama bekerja, sudah asti akan menemui titik jenuh pada suatu saat nanti. Gairah kerja menjadi turun dan mereka gamang untuk berpikir bagaimana dirinya bisa maju.

Satu lagi yang tidak kalah penting adalah kepemimpinan atasan. Banyak pula pekerja yang memaksakan diri keluar dari pekerjaan lantaran tidak puas dengan atasannya.Mereka berpikir cara atasa mereka memimpin hanya bisa membuat sakit hati dan kurang berkompeten. Akhirnya seberapa pun besar gaji dan banyaknya fasilitas yang diberikan, tidak lantas membuat pekerja tersebut kerasan berlama-lama dengan atasannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda