Scroll to Top

Orang Optimis Lebih Mampu Mengendalikan Stres

By Ilham Choirul / Published on Sunday, 28 Jul 2013

optimis

Orang yang punya sikap optimis dan pesimis itu beda. Keduanya memiliki efek yang berlainan ketika sama-sama dilanda pikiran tertekan atau stres. Studi yang dilakukan Concordia Unversity menemukan, kelompok orang yang selalu optimis dalam hidupnya, akan lebih mudah dalam mengontrol tingkat stras yang dialaminya. Sebaliknya, orang-orang pesimis lebih cenderung larut dengan perasaan stres yang dirasakan.

Seperti disitat Huffington post, sikap optimis dan pesimis ini sangat mempengaruhi kadar hormon kortisol. Hormon ini diketahui sebagai pemicu dari hadirnya perasaan tertekan. Kalau seseorang mengalami hari-hari penuh tekanan, hormon kortisol jumlahnya naik dan membuat stres. Saat seseorang relaksasi, jumlahnya akan berkurang.

Begitu pula dengan kedua sikap tersebut. Sikap optimis membuat jumlah hormon kortisol masih di ambang batas normal sekalipun banyak masalah yang menimpa seseorang. Artinya, hadirnya hormon ini masih bisa ditekan sehingga tidak sampai membuatnya stres atau mungkin depresi. Stres masih dalam kontrol kesadarannya. Namun, orang pesimis akan meningkat kortisolnya dan sulit dikendalikan kenaikannya.

“Pada hari-hari di mana mereka mengalami stres lebih tinggi dari rata-rata, saat itulah kita melihat bahwa respon stres para pesimis ‘jauh meningkat’. Dan mereka mengalami kesulitan membawa tingkat kortisol mereka kembali (lebih rendah),” kata Joelle Jobin, penulis studi.

Studi ini melibatkan 135 orang berusia 60 tahun ke atas yang diamati selama enam tahun. Selama 12 hari dari periode tersebut, mereka diambil sampel air liurnya sebanyak lima kali dalam sehari. Peserta juga diminta menjelaskan jumlah stres yang dialami dalam sehari, tingkat stres yang biasa dialami, dan seberapa jauh mereka optimis atau pesmis.

Peneliti lantas membandingkan kenaikan kortisol mereka dengan kortisol rata-rata harian selama periode itu. Dari situ terlihat, peserta yang optimis mengalami lonjakan kortisol yang tidak tinggi saat mereka mengalami stres. Namun, peserta yang pesimis cenderung meningkat kortisolnya kala datang masa-masa stres.

Studi ini diterbitkan dalam jurnal Health Psychology.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda