Scroll to Top

Menu Makanan di Solaria: Mungkin Halal, Mungkin Haram?

By Ilham Choirul / Published on Friday, 30 Aug 2013

solaria

Nama cafe Solaria memang cukup fenomenal di tanah air. Tempat makan yang menyajikan suguhan makanan sehari-hari ini kerap menghiasi pusat perbelanjaan di berbagai tempat seluruh Indonesia. Solaria memang membidik pangsa menengah ke bawah. Sejak kemunculannya di tahun 1995, café ini sekarang telah memiliki ratusan gerai dan menerapkan konsep franchise.

Seiring berjalannya waktu, nama Solaria makin dikenal. Peminat menu makanan Solaria juga semakin banyak. Harga makanan yang tidak terlalu mahal dan konon cukup kena di lidah penikmat kuliner, mejadikan café ini semakin popular.

Sayangnya, Solaria tersandung masalah kehalalan. Di negara Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, makanan halal menjadi sesuatu yang diperhitungkan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 2 Agustus 2013 lalu mengumumkan, Solaria belum mengantongi serifikasi halal.

“LPPOM MUI belum pernah melakukan pemeriksaan atas produk makanan/minuman dan atau mengeluarkan sertifikat halal untuk restoran Solaria di mana pun, sehingga MUI tidak menjamin kehalalan makanan/minuman yang disajikan oleh restoran Solaria,” kata rilis LPPOM MUI seperti dimuat dalam situs halalmui.org.

Sementara itu Manajer Operasional Solaria, Dedy Nugraha, membantah jika makanan yang disajikan Solaria haram. Dikutip dari VivaNews, makanan yang dibuat di Solaria memakai bahan-bahan yang halal. Termasuk pada penggunaan minyak, sama sekali diklaimnya tidak memakai minyak babi dan hanya memakai minyak kemasan, bukan minyak curah. Solaria juga berencana segera mengurus sertifikasi halal bulan Agustus ini.

Namun kabar kontra kehalalan makanan Solaria juga menjadi perhatian setelah Prof. Tjiptohadi Sawarjuwono, Ph.D, dosen akuntansi di Universitas Airlangga (UNAIR), menceritakan pengalaman kerabatnya yang hendak membeli franchise Solaria. Menurut email yang ditulisnya kepada situs Arrahmah, kerabatnya bercerita bahwa dalam mengolah menu makanan di café, pemilik franchise diwajibkan memakai angciu dan minyak babi.

“Ada kerabat yang mau beli franchise Solaria. Tapi ketika mau bikin kontrak perjanjian, ternyata pihak pemilik franchise mewajibkan penggunaan angciu dan minyak babi dalam beberapa masakan,” ujar Tjiptohadi.

Entah siapa yang salah maupun benar, setidaknya memiliki sertifikasi halal bisa meminimalkan keresahan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim untuk mendapatkan makanan halal. Isu ini sangat sensitif bagi masyarakat muslim, termasuk yang selama ini menjadi konsumen Solaria.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda