Scroll to Top

Kilas Balik Musim 2007/2008: Duel ketat Manchester United-Chelsea di Inggris dan Eropa

By Fitra Firdaus / Published on Saturday, 24 Sep 2011

Musim 2007/2008 adalah musim tersial bagi Chelsea. Bersaing ketat dalam empat kompetisi (Community Shield, Liga Inggris, Piala Carling, dan Liga Champions), mereka selalu terhenti di posisi runner-up. Lebih tragis lagi karena tiga kegagalan Chelsea di Community Shield, Premier League, dan Liga Champions tercipta oleh musuh besar, Manchester United.

Sebaliknya, bagi pasukan Alex Ferguson, keberuntungan (diiringi permainan apik) selalu hinggap ke kubu mereka.

Duel Chelsea-Manchester United diawali pada teriknya matahari musim panas di Community Shield. Berlaga di stadion keramat, Wembley, Chelsea dihempaskan Setan Merah melalui drama adu penalti. Skornya pun cukup mengenaskan. Meskipun The Blues memiliki pemain kelas dunia, tak sebiji gol pun tercipta dalam drama adu penalti. Claudio Pizzaro, Frank Lampard, dan Shaun Wright-Phillips tak bisa menaklukkan Edwin Van Der Sar. Sebaliknya, Rio Ferdinand, Michael Carrick, dan Wayne Rooney tanpa cela dalam tendangan 12 pas. 0-3, Manchester United meraih gelar pertamanya musim ini.

Di liga, awalnya Setan Merah tampil buruk. Mereka cuma meraih 2 poin dalam 3 laga. Sebaliknya, Chelsea meraih tujuh poin, seolah meninggalkan United dalam bursa persaingan juara.

Nyatanya, Chelsea kembali terjungkal. Padahal, Chelsea terakhir kali kalah di musim itu adalah pada bulan Desember, ketika dibekap Arsenal 1-0 pada pekan 17. Selebihnya, 21 pekan sisa, The Blues tak terkalahkan. Namun, Manchester United yang musim itu kalah lima kali (Chelsea cuma tiga kali) merebut gelar juara liga untuk kedua kalinya secara berturut-turut.

Persaingan terus terjadi hingga pekan ke-38 atau pekan terakhir. Sebelumnya, kedua tim sama-sama memiliki poin 84. Artinya, jika Manchester United seri atau kalah, Chelsea yang berhasil meraih gelar juara. Peluang Setan Merah terjatuh tetap ada karena mereka mesti bertandang ke kandang Wigan Athletic. Sementara, Chelsea justru menjadi tuan rumah menghadapi Bolton Wanderers.

Namun, mental juaralah yang bicara. Tampil kelebihan beban, Chelsea cuma bisa bermain imbang 1-1 dengan Bolton. United sukses mengandaskan Wigan 0-2. Hasilnya, Wayne Rooney dan kawan-kawan yang memiliki selisih gol 58 (Chelsea cuma 29) unggul dua angka dari Chelsea. Manchester United 87, Chelsea 85. Sekali lagi, The Blues dipecundangi Alex Ferguson.

Uniknya, dua kali kegagalan Chelsea ini ditangani manajer berbeda. Saat takluk di Community Shield, Chelsea masih diasuh Jose Mourinho. Saat dipecundangi di liga, Avram Grant-lah yang menjadi manajer setelah Mourinho mundur karena bertikai dengan Roman Abramovich

Kesempatan Chelsea untuk membalas dendam datang 10 hari setelah mereka cuma menjadi runner-up liga. Bukan main-main, peluang ada di final Liga Champions, gelar yang sangat diidamkan oleh Roman Abramovich hingga rela membeli puluhan pemain.

United sempat unggul melalui gol Cristiano Ronaldo. The Blues membalas melalui aksi Didier Drogba. Kemalangan seolah menjadi milik Chelsea ketika Drogba diberi kartu merah pada menit 117 setelah terjadi insiden dengan para pemain belakang Setan Merah.

Chelsea sempat memiliki harapan dalam drama adu penalti. Penendang penalti ketiga United, Ronaldo gagal. Sementara, hingga tendangan keempat, Chelsea selalu mulus. Penendang kelima adalah John Terry sang kapten. Lagi-lagi di sini mental juara dan keberuntunganlah yang bicara.

Terry terpeleset dan gagal menaklukkan Van Der Sar. Momentum pun diambil United. Penendang ketujuh mereka, Ryan Giggs, sukses. Sementara, Nicolas Anelka terpaksa mengubur impian klubnya sendiri untuk menjuarai Liga Champions pertama kali.

Keberhasilan Manchester United menjuarai Liga Champions musim 2007/2008 juga menjadi sinyal “kekuasaan” United di tingkat Eropa. Setelah final ini, Manchester United kembali masuk final pada musim 2008/2009 dan 2010/2011. Artinya, dalam empat musim terakhir, United tercatat sampai ke pertandingan terakhir Liga Champions sebanyak tiga kali. Sayang, dalam dua kesempatan terakhir, mereka dikalahkan oleh Barcelona dengan margin gol yang sama; 0-2 di musim 2008/2009 dan 1-3 di musim 2010/2011. Lionel Messi selalu mencetak masing-masing satu gol dalam dua pertandingan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda