Scroll to Top

Daihatsu Ayla dan Toyota Agya: Mobil Murah = Kemacetan?

By Ilham Choirul / Published on Monday, 16 Sep 2013

macet

Usai peluncurannya beberapa waktu lalu, Daihatsu Ayla dan Toyota Agya langsung kebanjiran order. Terutama untuk daerah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah konsumen yang melakukan inden mencapai 1.500 pesanan.

Dikutip Tempo, antrean pesanan Ayla dan Agya sebenarnya sudah terjadi sebelum kendaraan murah ini dirilis. Sekitar 3.000 konsumen di kedua provinsi itu menyatakan ketertarikannya. Namun sampai dengan acara launching mobil, jumlah kemudian menyusut hingga setengahnya. Pembatalan pesanan disebabkan salah satu karena konsumen hendak mencari kendaraan tipe lain. Diperkirakan mobil ini berangsur dikirim ke konsumen mulai Januari 2014 karena terbatasnya kapasitas produksi.

Untuk harga Agya dan Ayla sedikit lebih mahal untuk di luar Jakarta. Dikatakan Hartono Dinata, Direktur Pemasaran Nasmoco Group, hal itu sisebabkan adanya tambahan ongkos transportasi dan selisih biaya balik. Kenaikannya sekitar 2,5 persen dari banderol di ibukota. Harga Agya di Jawa Tengah dan DIY, misalnya,  dapat mencapai 103 juta hingga termahal 125,8 juta. Saran harga di bawah Rp 100 juta sulit dilakukan.

Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan ini, ada kekhawatiran sebagian kalangan terhadap efek pencanangan mobil murah dan ramah lingkungan tersebut, yaitu kemacetan. Beberapa waktu lalu Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, mengeluhkan bahwa kendaraan murah bisa menjadi ancaman makin macetnya ibukota. Dikutip Tribunnews, konon pesanan mobil murah telah mencapai 17.557 unit  dengan 7.000 unit di antaranya pesanan di Jakarta.

“Dalam tempo beberapa minggu saja sudah besar jumlah tambahan mobil di DKI. Anda bayangkan, bagaimana lagi kemacetan yang akan kita hadapi? Cari parkir mobil saja sudah sulit, polusi sudah parah, orang bakal terjebak di jalanan dan terlambat kerja, serta aktivitas ekonomi lainnya menjadi terhalang. Saya perhitungkan ini akan berdampak buruk bagi produktifitas perekonomian secara keseluruhan,” kata Rommy, Calon senator DKI Jakarta.

Penggunaan BBM pun sudah pasti kena imbasnya. Makin banyak BBM yang mesti dipasok yang jumlahnya lebih banyak dari penggunaan kendaraan sepeda motor. Sehingga menurut Rommy, mobil murah yang digadang untuk masyarakat kelas menengah ke bawah ini kurang tepat. Apalagi bagi orang kecil, mobil dengan harga segitu masih termasuk kategori kebutuhan tersier dan mereka masih terlalu sibuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Rommy turut mengritik pernyataan Menteri Perindustrian MS Hidayat yang tidak konsisten. Di satu sisi, MS Hidayat meyarankan Jokowi untuk memberikan akses kepada warga miskin untuk membeli mobil murah. Di sisi lain, mobil murah ini harus memakai bahan bakar pertamax  — yang merupakan BBM kualitas wahid – kalau tidak ingin mobil rusak dalam waktu dua tahun. Hal ini menurut Rommy akan menimbulkan masalah baru.

“Ini justru mendorong orang memakai kendaraan pribadi. Saya pikir lebih bijak dengan mendukung program pak Jokowi-Basuki untuk memperbaiki sistem transportasi publik yang bagus dan murah serta aman bagi pengguna serta menambah ruas jalan,” kata Rommy.

Namun karena mobil murah dan ramah lingkungan telah menjadi program nasional, yang perlu dilakukan adalah mencegah efek negatif dari kebijakan ini. Selain itu menurut Rommy  perlu dilakukan pembenahan terhadap transportasi publik, pengenaan pajak progresif bagi kendaraan, pengenaan aturan plat ganjil-genap, hingga biaya parkir tinggi untuk mengurangi kemacetan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda