Scroll to Top

Meninggalkan Facebook Membuat Seseorang Lebih Cerdas Secara Sosial

By Ilham Choirul / Published on Sunday, 22 Sep 2013

fakebook

Keputusan untuk hengkang dari situs jejaring sosial bisa membuat seseorang menjadi lebih cerdas dan memiliki kekuatan dalam mengambil keputusan. Hal tersebut tampak pada sebuah studi yang dilakukan sekelompok sosiolog dan psikolog di Austria yang dipimpin Stefan Stieger. Orang-orang yang enggan kembali memakai jejaring sosial menjadi lebih menyadari berbagai aspek yang ada di kehidupannya.

Dalam studi ini dilibatkan 310 orang pemakai Facebook yang menghapus akun mereka dan 321 pengguna biasa.  Mereka tinggal di 47 negara berbeda di lima benua. Ada kuesioner yang harus mereka jawab.

Dari jumlah responden yang meninggalkan akun Facebook, 71,5 persen merupakan pria yang rata-rata berusia 31 tahun. Rata-rata mereka meninggalkan akun dengan jumlah teman online 133 orang. Sebelum meninggalkan Facebook, mereka diketahui menghabiskan rata-rata 1,9 jam per hari untuk online. Rata-rata umur akunnya telah eksis selama 26 bulan.

Hasilnya, orang-orang yang memutuskan meninggalkan akun jejaring sosial merasa lebih sadar dengan kehidupan sehari-hari, lebih tepat waktu untuk melakukan sesuatu, dan lebih berhati-hati. Ada empat alasan yang dkemukakan. Sekitar 48 persen mengatakan meninggalkan akun karena khawatir keamanan data pribadi akan bocor. Selanjutnya, 6 persen dari responden mengaku terlalu tenggelam secara permanen dengan di dunia maya. Bahkan, mereka sering memutuskan sesuatu secara instan hanya dengan proses klik mouse saja.

Alasan selanjutnya yaitu banyak responden tidak menyukai perilaku teman-teman Facebook. Ada 12,6 persen yang mengatakan hal tersebut dan memutuskan tidak mau lagi bermain jejaring sosial. Beberapa perilaku yang tidak disukai adalah terus menerus diundang ke suatu acara, ditambahkan ke dalam daftar pertemanan orang lain, dan sebagainya. Alasan terakhir adalah rasa jenuh dan kecewa secara umum terhadap kehidupan jejaring sosial (13,5 persen). Banyak responden yang mengatakan kehidupan virtual sama sekali berbeda dengan kehidupan nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda