Scroll to Top

Hari Kesaktian Pancasila: Mengapa Setiap Tanggal 1 Oktober Selalu Diperingati?

By Fitra Firdaus / Published on Tuesday, 01 Oct 2013

Hari Kesaktian Pancasila Mengapa Setiap Tanggal 1 Oktober Selalu Diperingati

Setiap tanggal 1 Oktober kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Hal ini tidak terlepas dari tragedi pemberontakan yang disebut ‘Gerakan 30 September’ atau G30S atau Gestapu. Hingga saat ini, belum ada bukti paling akurat tentang siapa dalang gerakan ini, meskipun sejarah Orde Baru menyebutkan PKI (Partai Komunis Indonesia) sebagai pelaku utamanya.

Sesuai namanya, G30S terjadi pada 30 September 1965 malam hari. Versi Orde Baru, sekelompok pasukan yang diidentifikasikan sebagai Cakrabirawa (pengawal istana presiden) melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap enam jenderal senior Angkatan Darat. Tiga di antaranya, Ahmad Yani, DI Panjaitan, dan MT Haryono terbunuh di tempat, sedangkan jenderal-jenderal lain (Soeprapto, S. Parman, dan Sutoyo Siswomiharjo) dibawa dalam keadaan hidup.

Sejatinya, jenderal TNI Abdul Haris Nasution, merupakan salah satu target utama dalam pemberontakan tersebut. Beliau selamat dari tindakan penculikan tersebut. Namun, putri Nasution dan sang ajudan Pierre Tendean, menjadi korban keganasan pasukan yang masuk ke rumah sang jenderal. Pierre Tendean sendiri keliru diidentifikasi sebagai Nasution; sehingga turut dibawa pasukan penculik.

Para jenderal yang masih hidup, kemudian sempat mengalami penyiksaan sedemikian rupa. Sebelum akhirnya, korban-korban tersebut dimasukkan ke sebuah lubang dan ditutup di atasnya dengan pohon pisang, di wilayah Lubang Buaya.

Pasca pembunuhan tersebut, pemberontak —disebutkan sebagai PKI— berhasil menguasai Studio RRI dan Kantor Telekomunikasi. Via RRI, Letkol Untung menyatakan terbentuknya Dewan Revolusi yang telah menghentikan upaya ‘Dewan Jenderal’ -dilabelkan pada jenderal TNI AD– yang hendak melakukan kudeta pada pemerintah.

Sementara itu, Suharto, yang meski jenderal, tetapi tidak tercantum dalam daftar tokoh yang harus dibunuh pemberontak, mendapatkan momentum. Ia memegang komando, melakukan beberapa strategi penting, untuk kemudian berhasil merebut kembali Jakarta dari pasukan pemberontak. Dalam sehari, tanpa memuntahkan peluru, upaya ‘Dewan Revolusi’ dipatahkan.

Kemudian, 1 Oktober 1965 malam hari pukul 20.15 WIB, Dinas Penerangan AD melalui RRI menyatakan, telah terjadi gerakan kontra revolosui yang menculik enam jenderal. Namun, situasi sudah diatasi, pimpinan AD ada di tangan Soeharto, presiden Soekarno dan Nasution dalam keadaan aman.

Selamatnya Indonesia dari pemberontakan inilah yang kemudian menandai Hari Kesaktian Pancasila, yang diperingati pada 1 Oktober setiap tahunnya. Namun, hingga saat ini ada berbagai versi tentang G30S sendiri. Siapa dalangnya, apa motifnya, dan sebagainya.

Foto: wikipedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda