Scroll to Top

Gunung Samalas Diduga Penyebab Letusan Dahsyat Abad 13

By Ilham Choirul / Published on Tuesday, 01 Oct 2013

rinjani

Gunung Samalas – sekarang disebut Gunung Rinjani – yang berada di Pulau Lombok diduga kuat menjadi penyebab letusan mahadahsyat di tahun 1257. Temuan terbaru ilmuwan internasional ini merujuk dari adanya kemiripan kadar belerang dan debu jejak es yang ada di kutub, dengan data mengenai wilayah di Lombok. Faktor kemiripan lain adalah tanggal radiokarbon, jenis dan distribusi batuan serta abu vulkanik, hingga rangkaian pohon. Demikian dikutip dari BBC.

Kejadian di abad 13 itu juga makin menguat asal-usul penyebabnya setelah didapatkan informasi bahwa Kerajaan Lombok ternyata juga jatuh pada waktu yang diperkirakan sama dengan letusan.  Dan, sisa dari letusan besar itu yang sampai sekarang masih ada adalah Danau Segara Anak. Danau ini terbentuk dari struktur awal gunung purba Samalas.

Dahsyatnya letusan di tahun 1257 tersebut mengimbas sampai ke dunia luas. Abu kimianya tersebar sampai ke daerah-daerah di kutub utara dan kutub selatan. Dari catatan yang ada tentang perkembangan  zaman pertengahan di Eropa, banyak kawasan yang mengalami gagal panen dan suhu mendadak dingin. Kekuatan letusan sebanding dengan “kemarahan” Gunung Krakatau di tahun 1883 dan Gunung Tambora di tahun 1815.

Perubahan cuaca pun terjadi, sekalipun sudah memasuki musim panas di tahun 1258. Banjir terjadi di mana-mana akibat hujan tanpa henti. Suhu menurun secara ekstrim. Walhasil di London banyak ditemukan kuburan massal yang meninggal akibat perubahan cuaca ini.

Teori yang ada sebelumnya mengatakan bahwa letusan tahun 1257 disebabkan oleh gunung di Meksiko, Ekuador, dan Selandia Baru. Hanya saja semua gagal saat dilakukan penyocokan tanggal geokimia. Namun ketika dibandingkan pada Gunung Samalas, tanggal geokimia memenuhi persyaratan yang ada.  Diperkirakan lebih dari 40 kubik kilometer batu dan abu melesat ke angkasa. Ketinggian letusan diperkirakan mencapai lebih dari 40 kilometer.

“Buktinya sangat kuat dan menarik,” kata Profesor Clive Oppenheimer, dari Universitas Cambridge, Inggris.

Sementara itu menurut Prof Franck Lavigne dari Universitas Pantheon-Sorbonne, Prancis, untuk menemukan kesimpulan ini mereka memakai filosofi investigasi kriminal. Peneliti awalnya tidak memahami siapa yang berada di balik penyebab letusan. Namun, dengan menggunakan berbagai temuan yang ada akhirnya petunjuk ditemukan.

“Kami tidak mengetahui pelakunya di awal, tetapi kami memiliki waktu pembunuhan dan jejak dari geokimia dari dalam dasar es, dan itu membuat kami bisa menelusuri kepada gunung api yang bertanggung jawab,” kata Lavigne.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda