Scroll to Top

Keistimewaan Puasa Asyura dan Bulan Muharram

By Fitra Firdaus / Published on Friday, 08 Nov 2013

Keistimewaan Puasa Asyura dan Bulan Muharram 2

Sejak Selasa lalu, kita telah memasuki bulan Muharram 1435 H yang menjadi bulan pertama dalam sistem kalender Hijriyah. Bulan ini memiliki kemuliaan yang tak dimiliki bulan-bulan lain. Adapun pada 10 Muharram mendatang, yang jatuh pada Kamis, 14 November 2013 kita disunnahkan untuk mengerjakan Puasa Asyura.

Bulan Muharram, bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab adalah empat bulan yang digolongkan dalam Al-Asyhurul Hurum atau bulan-bulan yang dimuliakan. Allah, melalui Q.S. At-Taubah:36 telah berfirman, melarang umat manusia untuk berperang dalam bulan-bulan haram tersebut.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan, perintah ini menunjukkan bahwa pada empat bulan tersebut, kedamaian dan kebaikan akan memperoleh pahala berlipat. Sebaliknya, mereka yang gemar memamerkan kuasa dan membenci sesama, yang digambarkan dengan berperang, akan memperoleh balasan yang berlipat pula.

Pada 10 Muharram nanti, seorang muslim disunnahkan untuk menjalani Puasa Asyura. Banyak kejadian pada tanggal tersebut sepanjang sejarah, yang membuktikan keagungan Allah dan kemuliaan orang-orang yang menyembah-Nya. Diriwayatkan, Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israel dari Firaun di Laut Merah pada 10 Muharram.

Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Nabi saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa hari ‘Asyura. Beliau bertanya kepada mereka, “Ada apa ini?”

Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini.”

Nabi saw. bersabda, “Saya lebih layak dengan nabi Musa dibandingkan kalian.” Maka beliau berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa ‘Asyura.”(HR. Bukhari no. 2204 dan Muslim no. 1130)

Keistimewaan Puasa Asyura dan Bulan Muharram

Puasa Asyura, tidak hanya berfungsi sebagai wujud syukur hamba Allah atas rahmat-Nya menjauhkan kejahatan orang-orang kafir. Bukan hanya sekadar upaya kita mencontoh Nabi Muhammad saw. mengerjakan puasa pada hari ini. Disebutkan, “Rasulullah saw. ditanya tentang puasa hari ‘Asyura, maka beliau bersabda: “Ia dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun yang lalu.”(HR. Muslim no. 1162).

Ada tiga tingkatan berkaitan dengan puasa Tasu’a dan ‘Asyura. Yang pertama, mengerjakan puasa satu hari saja, yaitu pada hari ‘Asyura (10 Muharram). Yang berikutnya, adalah puasa dua hari, dengan ditambah hari Tasu’a (9 Muharram).

Ada pula yang kemudian menambahkan satu hari lagi, yaitu pada 11 Muharram. Tidak ada sabda Nabi saw. mengenai puasa tiga hari beruntun pada bulan Muharram. Kalimat ini tercetus dari Ibnu Abbas, dan sanadnya lemah. Meskipun demikian, ada yang membolehkannya dengan merujuk Sabda Rasulullah yang disampaikan ulang oleh ABu Hurairah, “… “Kekasihkau (Rasulullah saw.) berwasiat kepadaku dengan tiga hal; puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha dan tidak tidur kecuali setelah melakukan shalat witir.” (HR. Abu Daud no. 1432, shahih)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda