Scroll to Top

10 Pemain Bergelar “Maradona Baru” (Bagian 2)

By Fitra Firdaus / Published on Wednesday, 01 Jun 2011

 

Berikut ini adalah bagian ke-2 dari 10 Pemain Bergelar “Maradona Baru” setelah sebelumnya kita membahas Diego Lattore, Ariel Ortega, Marcelo Gallardo, Juan Roman Riquelme, dan Pablo Aimar

 

6. Andres d’Alessandro

Dengan tinggi hanya 174 cm, d’Alessandro meneruskan jejak sebutan “Maradona Baru”. Pemain yang terkenal memiliki dribble ciamik dan umpan-umpan terukur yang menakjubkan ini seperti rekan-rekan sebelumnya, disepuh dahulu di Liga Argentina bersama River Plate.

Sukses di River, d’Alessandro hijrah ke Wolfsburg, klub kecil di Liga Jerman. Di sini, d’Alessandro berhasil membuahkan rekor sebagai pemain yang mencetak gol ke-4000 Bundesliga (Liga Jerman) pada 21 September 2005 kala Wolfsburg menang 4-2 atas Hannover 96.

Sayang, d’Alessandro yang dijuluki Si Kepala Besar (karena kepalanya memang besar) kemudian dipinjamkan ke Portsmouth, dibeli Real Zaragoza, merumput ke San Lorenzo (Argentina) sebelum akhirnya merapat ke Internacional (Brazil).

Di Internacional, d‘Alessandro berhasil meraih kesuksesan. Klubnya memboyong Copa Sudamericana (2008), Juara Liga Brazil (2009,2011) dan Juara Copa Libertadores (2010). Yang fantastis, d’Alessandro meraih gelar Pemain Amerika Selatan Terbaik pada 2010. Sayang, di tingkat internasional, d’Alessandro baru mencicipi 25 pertandingan bersama Argentina dan mencetak 3 gol.

 

7. Javier Saviola

Saviola yang bergigi kelinci pernah merasakan tampil bersama dua klub penguasa Liga Spanyol, Barcelona dan Real Madrid. Ia memperkuat Barcelona dari 2001 hingga 2007 dan memulai debut saat berusia 19 tahun.

Tiga musim pertama Saviola di Camp Nou sukses besar kala ia mencetak 17 gol, 13 gol, dan 14 gol. Namun, dalam musim-musim berikutnya, ia lebih sering dibangkucadangkan dan sempat dipinjamkan ke Monaco dan Sevilla.

Kini, Saviola memperkuat Benfica bersama Pablo Aimar. Untuk urusan internasional, Saviola yang seorang striker lincah sudah mencetak 11 gol dalam 40 pertandingan bersama Argentina. Namun, ia memutuskan pensiun diri dari timnas pada usia 28 tahun karena ingin berkonsentrasi di klub.

 

 

 

8. Carlos Tevez

Carlos Tevez, kapten Manchester City musim 2010/2011, dikenal sebagai striker garang. Ia tercatat sebagai pemain yang bisa memperkuat duo klub Manchester, yaitu Manchester United dan klubnya sekarang.

Didikan Boca Juniors ini melanglang ke tanah Inggris kala dibeli West Ham United dari Corinthians pada 2006. Hanya semusim bertahan di West Ham dan sempat bermasalah dengan rekan-rekannya, Tevez pindah ke Old Trafford.

Di bawah asuhan Sir Alex Ferguson selama dua musim, Tevez tampil 99 kali dan mencetak 34 gol. Tevez turut mengantarkan MU menjuarai Liga Champions 2008 kala menang adu penalti melawan Chelsea (Tevez menjadi penendang penalti pertama).

Musim 2009/2010, Tevez hengkang ke rival sekota MU, Manchester City dan mendapatkan dua musim fantastis di The Citizen. Pada musim kedua, Tevez menjadi top skorer Premier League dan sukses mengantar City juara Piala FA untuk pertama kalinya dalam 34 tahun.

Di timnas Argentina, meski bersaing dengan striker hebat lain semacam Higuain, Aguerro, dan Messi, Tevez bisa mencuri tempat. Saat Piala Dunia 2010 lalu, 2 gol Tevez membantu Argentina mencukur Meksiko 3-1 di babak 16 besar. Sayang, di babak perempat final, Argentina ditumpas Jerman 0-4. Total Tevez mencetak 12 gol dari 50 kali penampilannya bersama Argentina di usianya yang masih 27 tahun.

 

9. Ezequiel Lavezzi

Lavezzi yang tingginya 173 cm disebut-sebut sebagai Maradona Baru oleh media massa. Hal ini disebabkan oleh kedatangan Lavezzi ke Italia (pertama kali Lavezzi bergabung ke Genoa). Julukan itu semakin “layak” kala Lavezzi dibeli Napoli, klub yang lekat dengan nama Maradona, pada 2007.

Hingga saat ini, Lavezzi sudah bermain 131 kali untuk Napoli dan menyumbang 35 gol. Tuah Lavezzi membuat Napoli menapaki kualifikasi Liga Champions musim depan.

Sementara itu, untuk urusan timnas, Lavezzi tidak “tersentuh” kala Argentina diarsiteki Diego Maradona. Namun, begitu Sergio Batista menjabat sebagai pelatih, Lavezzi menjadi salah satu pemain regular timnas. Hingga kini, Lavezzi sudah bermain 11 kali meski belum menyumbang gol. Salah satu penampilan terbaik Lavezzi adalah kala menyumbang assist untuk Messi kala Argentina bersua Brazil 1-0.

 

 

10. Lionel Messi

Tidak ada pemain yang benar-benar mirip Maradona di lapangan kecuali Messi. Tidak salah kalau The Messiah juga diberi gelar Messidona oleh jurnalis Spanyol.

Ia tidak hanya lincah dan produktif. Messi bahkan meniru gol tangan Tuhan Maradona saat melawan Espanyol, sesama tim Catalan. Selanjutnya, Messi juga mencetak gol dengan melewati enam pemain (termasuk kiper) kala menghadapi Getafe; hal yang sama dengan cara Maradona mencetak gol kala menghadapi Inggris di Piala Dunia 1986.

Berkostum Barcelona, Messi telah memenangi semua gelar untuk klub: Juara La Liga, Juara Copa Del Rey, Juara Piala Super Spanyol, Juara Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Ketajaman Messi juga dibuktikan dengan menjadi top skorer Liga Champions tiga musim berturut-turut, yaitu 2008/2009 (Barcelona juara), 2009/2010 (Barcelona sampai ke semifinal), dan 2010/2011 (Barcelona juara lagi).

Bahkan Maradona mengaku bahwa Messi adalah “reinkarnasi” dirinya saat ini. Bedanya, sikap Maradona dan messi di luar lapangan sangat bertolak belakang. Messi dikenal sebagai pribadi rendah hati dan tidak suka kehidupan “liar” seperti Maradona.

Sementara itu di timnas, Messi belum bisa “berbicara banyak”. Ia belum mampu mengantar Argentina menjuarai Copa America atau Piala Dunia. Namun, permainannya di timnas, sama seperti di klub, nyaris tak tergantikan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda