Scroll to Top

Mengurangi Berat Badan Mencegah Gangguan Irama Denyut Jantung

By Ilham Choirul / Published on Wednesday, 20 Nov 2013

gendut

Program penurunan berat badan bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan. Semakin proporsional berat badan seseorang, maka kemungkinan hadirnya beberapa penyakit dapat dicegah. Misalnya diabetes, masalah ginjal, dan sebagainya. Temuan terbaru dari peneliti di Universitas Adelaide dan Rumah Sakit Adelaide, Australia, mengungkapkan bahwa nilai berat badan berhubungan dengan risiko kemunculan gejala fibrilasi atrium.

Sebagai informasi, fibrilasi atrium atau FA adalah gangguan yang terjadi pada irama denyut jantung. Jika irama tersebut tidak teratur dapat membahayakan jantung. Hal ini menyebabkan darah kurang terpompa secara normal. Akibatnya bisa fatal, yaitu terjadi pengumpulan dan penggumpalan darah. Masalahnya,gumpalan ini bisa menyumbat arteri dan mengganggu proses pengiriman oksigen. Lebih dari itu, gumpalan darah dapat terbawa sampai arteri di otak. Produk berbahayanya adalah terjadi serangan jantung dan atau stroke iskemik.

Pada studi ini dilakukan evaluasi terhadap pasien yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas yang diketahui memiliki gejala fibrilasi atrium.  Studi dilangsungkan selama Juni 2010 hingga Desember 2011. Sebagian pasien secara acak diminta melakukan pengontrolan berat badan dan sebagian lain menjalani hidup seperti biasa tanpa kontrol. Setiap 15 bulan, pasien mendapatkan tindak lanjut.

Kedua kelompok juga menjalani pengontrolan faktor risiko kardiometabolik.  Faktor ini meliputi hipertensi, hiperlipidemia, intoleransi glukosa, sleep apnea, dan penggunaan rokok serta alkohol.

Hasilnya, pasien yang mengalami gejala fibrilasi atrium diketahui menurun tingkat keparahannnya setelah melakukan pengontrolan terhadap berat badan. Jantung mereka berdetak lebih baik iramanya dibanding saat kondisi berat badan masih gemuk atau mengalami obesitas.

“Dalam studi ini, sebuah program manajemen berat badan yang sangat terstruktur bagi pasien gejala fibrilasi atrium mengurangi beban gejala dan keparahan, dan mengurangi penggunaan antiarrhythmic bila dibandingkan dengan usaha secara optimal dalam mengelola faktor risiko saja,” tulis peneliti, seperti dikutip Times of India.

Studi ini diterbitkan dalam jurnal JAMA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda