Scroll to Top

Review Liga Italia: Kebangkitan Napoli dan Lampu Merah untuk Internazionale

By Fitra Firdaus / Published on Sunday, 02 Oct 2011

Internazionale 0 - 3 Napoli

Awal musim ini, Napoli memilih untuk berkonsentrasi di Liga Champions. Hasilnya memang ampuh. Mantan tim Diego Maradona sementara berada di posisi runner-up di bawah Bayern Muenchen. Mereka bahkan mampu menahan tim sekelas Manchester City 1-1 di Etihad Stadium. Tidak ada kesan tim ini mengalami demam panggung seperti ketika mereka dicukur 5-0 oleh Barcelona dalam Joan Gamper Trophy awal Agustus lalu.

Di Liga Italia, peringkat tiga musim lalu ini sempat melempem. Curahan perhatian ke Liga Champions membuat klub yang diasuh oleh Walter Mazzarri gagal menang dalam dua pekan terakhir. Setelah kemenangan impresif di dua laga awal —termasuk mencukur AC Milan 3-1 —, Napoli cuma memetik satu angka dari dua pertandingan terakhir. Mereka imbang 0-0 dengan Fiorentina dan dibekap 1-0 oleh Chievo Verona.

Rasa was-was pun menyelimuti ketika berjumpa dengan Internazionale. Maklum, di tangan pelatih anyar, Claudio Ranieri, Nerazzuri belum pernah kalah. Mereka menyikat tuan rumah Bologna 1-3 dan menghabisi perlawanan ketat CSKA Moskow 2-3. Namun, nyatanya, Napoli mampu membungkam Internazionale 0-3 di San Siro!

Cerita pun berubah drastis. Musim lalu, Napoli sempat meramaikan perburuan scudetto. Duo kota Milan, Internazionale dan AC Milan, dipaksa bekerja cukup keras. Bahkan meski AC Milan meraih scudetto sebelum liga berakhir, Napoli dianggap sebagai kontestan paling berat.

Namun, pada musim yang sama pula, Napoli menjadi macan ompong ketika menghadapi duo Milan. Dari empat pertandingan di liga, Napoli cuma bisa memetik 1 angka. Selebihnya, mereka adalah pecundang bagi dua klub raksasa tadi.

Musim ini, keadaan berbalik. Dalam dua laga awal, Napoli menekuk Internazionale dan AC Milan. Pantas kalau mereka mengapungkan harapan setinggi-tingginya. Mengandalkan Edinson Cavani, Ezequiel Lavezzi, Goran Pandev, hingga si gaek Cristiano Lucarelli di lini depan, Napoli mampu mencetak 12 gol dari 7 pertandingan. Sementara, pertahanan mereka yang dipimpin oleh Paolo Cannavaro sang kapten, cuma terbobol 4 gol.

Kekuatan Napoli juga semakin tangguh dengan lini tengah luar biasa. Bahkan, seperti dalam laga melawan Internazionale, justru para bek dan gelandang yang mampu menjawab kebuntuan ketika Cavani atau Lavezzi dijaga ketat oleh bek-bek lawan.

Sementara itu, bagi Internazionale, keadaan ternyata tak sepenuhnya berubah. Klub yang pernah menjuarai Liga Italia selama lima musim ini tengah berada dalam kondisi gawat. Terbobol 14 gol dalam 7 pertandingan jelas menunjukkan parahnya koordinasi lini belakang mantan klub Roberto Mancini lagi. Belum lagi mental juara yang terlanjur rusak. Menang 2 kali dan kalah 4 kali jelas bukan jalan yang tepat jika sang presiden, Massimo Moratti masih berharap mengejar scudetto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda