Scroll to Top

Sitok Srengenge, Penyair Kondang, Cabuli Mahasiswi

By Fitra Firdaus / Published on Thursday, 05 Dec 2013

Sitok Srengenge, Penyair Kondang, Hamili Mahasiswi

Penyair Sitok Srengenge menghamili mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI) berinisial RW. Saat ini korban sudah hamil tujuh bulan dan Sitok sebelumnya dinilai tidak mau bertanggungjawab. Sitok sendiri kini mundur dari Komunitas Salihara.

Sebuah acara teater di Kampus UI pada penghujung Desember 2012 mempertemukan Sitok dan RW. Selang empat bulan kemudian, RW kemudian bersua dengan SS untuk membicarakan tugas penelitian sastra. Namun, kesempatan itu justru digunakan SS untuk melakukan eksploitasi seksual kepada korban.

“Setelah itu, terlapor memaksa pelapor masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Di dalam kamar, menurut pengakuan pelapor, terlapor meraba, mencium kemudian menyetubuhi pelapor yang mengakibatkan hamil tujuh bulan,” turut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto seperti dikutip Merdeka.

Setelah mengetahui dirinya hamil, RW berusaha meminta SS bertanggungjawab. Enam berlalu, namun SS dilaporkan tak menggubris. Keadaan ini kemudian membuat RW mengalami depresi.

Disebutkan oleh Lily Tjahyandari, pendamping korban, RW sempat dua kali melakukan percobaan bunuh diri. Sementara, sang pengacara, Iwan Pangka, menyatakan SS meneror RW dan tidak menunjukkan itikad baik. Barulah ketika masalah ini menggelembung, dibicarakan orang banyak, SS merespons.

BEM FIB UI sendiri, melalui siaran pers pada Selasa (3/12) menyebutkan, “Sitok terus menerus melakukan “teror”. Korban yang sedang dalam kondisi terpuruk tidak punya pilihan selain berusaha untuk mengakhiri dengan bertemu langsung.”

Dilansir oleh Tempo, SS menyatakan hal yang berkebalikan. Ia mengaku pernah berhubungan intim dengan RW, tapi hal tersebut terjadi karena suka sama suka. Ia juga mengaku tidak lari dari tanggung jawab.

Sejak Selasa (3/12) lalu Sitok Srengege sudah mengundurkan diri dari Komunitas Salihara. Institusi kesenian tersebut mengungkapkan, sangat menghormati keputusan RW untuk melapor pada kepolisian.

Mereka juga, “menyadari betapa beratnya bagi seorang perempuan untuk melaporkan pemaksaan hubungan seks, kehamilan di luar nikah, dan penelantaran.”

Kurator seni di Komunitas Salihara ini ternyata tinggal tak jauh dari tempatnya bekerja. Dia tinggal di sebuah kost rumah berwarna putih di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Kost ini merupakan tempat tinggal yang cukup mewah. Rumah tingkat dua itu juga dibagi menjadi dua bagian hanya dengan 10 kamar saja. Harga sewa berkisar seharga 2 juta rupiah per bulannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Anda